Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Khotbah. Tampilkan semua postingan

Senin, 19 Oktober 2015

Study Karakter - Hawa 2

Kenapa Hawa bisa Tertipu oleh Iblis?

Hari ini kita mempelajari bagian kedua tentang karakter Hawa. Pada bagian yang pertama, kita melihat pada pertanyaan, “Kenapa Hawa jatuh dalam dosa?”
Kita melihat ada satu musuh di taman Eden. Dia adalah musuh Allah dan juga merupakan musuh Adam dan Hawa. Dan dia juga merupakan musuh kita. Dialah si ular yaitu sang Iblis. Iblislah yang merencanakan untuk menipu dan membingungkan Hawa. Iblis berhasil membuat Hawa mempercayainya dan memakan buah yang tidak seharusnya dia makan. Cara yang dipakai oleh Iblis adalah dengan menimbulkan kecurigaan di dalam hati Hawa terhadap Allah. Hawa terpedaya dengan dusta Iblis bahwa Allah tidak mengizinkan Hawa memakan buah itu karena Allah tidak ingin manusia menjadi seperti Allah. Iblis menampilkan Allah sebagai sosok yang egois. Itulah cara yang dipakai oleh Ibils untuk menabur benih keraguan di dalam hati Hawa terhadap Allah.
Sikap meragukan ini akhirnya menyebabkan hilangnya suatu hubungan dengan Allah yang berujung pada pemberontakan.

Pada waktu yang sama kita juga melihat bahwa apa yang dikatakan Iblis, tidak semuanya bohong. Ada benarnya dan ada juga bohongnya. Inilah hal yang paling berbahaya tentang sifat dusta, karena hal ini membuat Hawa sangat sulit untuk membedakan mana yang benar dan mana yang palsu. Dia lalu menganggap bahwa semua yang Iblis katakan itu benar. Inilah yang kita pelajari di pesan yang lalu. Kita mengakhiri pesan yang lalu dengan meninggalkan satu pertanyaan yang belum terjawab. Kita melihat bahwa Hawa benar-benar telah ditipu oleh si ular yang licik, sehingga dia memakan buah yang seharusnya tidak boleh dia makan, dan dia jatuh ke dalam dosa. Penjahat yang sebenarnya adalah si ular.  Kalau demikian, bukankah seharusnya ular saja yang dihukum. Kenapa Allah memperhitungkan itu sebagai dosa Hawa dan menghukum dia? Bukankah ini tidak adil? Hari ini mari kita memulainya dengan pertanyaan ini. Sebenarnya untuk menjawab pertanyaan ini, kita harus menyelesaikan pertanyaan-pertanyaan yang lain seperti, kenapa Hawa tertipu oleh si Ular?

Perhatikan bahwa Adam tidak ditipu. Alkitab sangat jelas dalam hal ini. 1 Timotius 2:14 mengatakan: Lagi pula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
Berdasarkan ayat ini kita bisa melihat mengapa akibat dari dosa Adam itu begitu serius. Salah satu alasannya adalah, Hawa jatuh ke dalam dosa karena dia diperdaya oleh ular, tetapi Adam berbuat dosa bukan karena dia telah diperdaya. Dia melakukannya dengan sadar. Itulah sebab, dosanya jauh lebih serius (berat).
Maka kita harus menanyakan pertanyaan ini. Kenapa Hawa ditipu ular, tetapi Adam tidak? Apakah ada sesuatu yang khusus pada Hawa yang membuatnya siap dimanfaatkan oleh ular?
Dari semua itu, kita bisa melihat bagaimana seseorang itu bisa terhasut tipuan.

Di Indonesia saya sudah dua kali melihat kejadian penipuan di dalam angkutan umum. Yang mengherankan saya adalah sekalipun kasusnya terjadi pada tempat dan waktu yang berbeda, dan dengan cara penipuan maupun korban yang berbeda, namun modus yang mereka gunakan itu sama. Modusnya adalah: Beberapa penipu masuk ke dalam sebuah bis dan berpencar. Mereka berpura-pura tidak saling mengenal satu dengan yang lain. Ketika bis sudah dalam perjalanan untuk beberapa waktu lamanya, salah satu dari mereka akan menyamar menjadi seorang yang mengalami kelainan mental (agar tidak membingungkan, saya menyebutnya “Penipu pertama”).
Penipu ini bertindak janggal dan seenaknya, dia membuka satu kaleng minuman ringan tetapi kaleng itu jatuh ke lantai dan mengenai orang lain yang duduk di sebelahnya. Tentu saja orang ini juga anggota komplotannya. Kita sebut dia “Penipu kedua”.
Penipu kedua ini berpura-pura tidak mau memaafkan dan mengomel dengan keras, “Kenapa Anda begitu ceroboh? Bagaimana mungkin Anda tidak tahu cara membuka sebuah kaleng? Lalu dia memungut kaleng minuman ringan itu dari lantai. Setelah mengambilnya dia kemudian berteriak, Oh…minuman Anda ini memenangkan lotere!
Tetapi Penipu pertama, yang masih berpura-pura mengalami gangguan jiwa, tentu saja dia tidak mengerti apa yang sedang terjadi.
Penipu kedua lalu membuka tas penipu pertama, dan berseru lagi, “Oh…ada banyak mata uang asing! Bagaimana kamu bisa memiliki semua ini?” Kemudian Penipu ketiga bergabung dan yang ini adalah seorang wanita. Mungkin karena orang-orang akan lebih mudah mempercayai wanita (ketimbang pria). Penipu ketiga berdiri dan melihat pada mata uang asing itu. Dan dengan penuh wibawa dia berkata. “Ini adalah mata uang Negara tertentu dan nilai kursnya sangat tinggi. Seratus dolar saja dapat ditukar dengan 13 juta rupiah. Penipu lain pun bertanya, “Bagaimana Anda tahu? Benarkah?”
Penipu ketiga menjawab dengan yakin, “Tentu saja saya tahu! Saya bekerja di bank, saya sudah bekerja di bank lebih dari 10 tahun.
Lalu Penipu kedua merayu penipu pertama, “Boleh tidak saya bertukar beberapa lembar dengan kamu? Mau tidak kalau kita tukar 100 dolar ini dengan 200 ribu rupiah?” Seterusnya penipu lain pun turut bergabung untuk berebut-rebut untuk menukarkan uang mereka dengan mata uang asing itu. Mereka juga menghasut penumpang lain untuk turut menukarkan uang mereka. Hampir semua penumpang mulai percaya dan menukarkan uang mereka sampai tidak ada uang asing untuk ditukar lagi. Kemudian suasana pun kembali tenang. Lalu para penipu keluar dari bis pada tempat perhentian yang berbeda lalu pergi. Beberapa penumpang yang masih tinggal mulai menemukan bahwa ada hal yang salah dan mulai sadar bahwa mereka telah ditipu.
Saya cukup heran, kenapa penipu yang sama dapat beraksi berulang-ulang dan selalu berhasil. Setiap kalinya mereka selalu meraih keuntungan yang besar.
Kenapa begitu banyak orang yang tertipu? Jika siasat penipuannya canggih, itu masih wajar. Namun rencana mereka ini penuh dengan kelemahan dan benar-benar bodoh dan buruk. Namun tetap saja dapat menipu banyak orang. Ini sungguh tidak dapat dipercaya. Saya tidak dapat berhenti bertanya, ada apa sebenarnya?
Sebenarnya jawabannya ada di dalam Alkitab. Mari kita melihat 1Timotius 6:9,

1 Timotius 6:9 Tetapi mereka yang ingin kaya terjatuh ke dalam pencobaan, ke dalam jerat dan ke dalam berbagai-bagai nafsu yang hampa dan yang mencelakakan, yang menenggelamkan manusia ke dalam keruntuhan dan kebinasaan.

Dikatakan di sini, siapakah yang akan tertipu? Mereka yang ingin kaya. Orang yang mempunyai keinginan. Sangat jelas, alasan mengapa mereka yang tertipu, di dalam contoh di atas, adalah karena ketamakan mereka. Mereka ingin kaya namun tidak mau bekerja keras. Dengan adanya keinginan semacam ini di dalam mereka,  mereka dengan mudah mempercayai perkataan para penipu. Mereka berpikir hanya dengan menukar uang itu, mereka bisa mendapatkan banyak uang dalam waktu yang singkat tanpa perlu bekerja keras dan tanpa perlu berusaha.
Kita selalu memimpikan cara mudah dan jalan pintas untuk mencapai tujuan. Sikap inilah yang membuat orang mudah tertipu. Pepatah orang Tionghoa berkata “uang membingungkan pikiran”. Menggunakan peribahasa ini untuk menggambarkan sekelompok orang yang tertipu ini sangatlah tepat. Ketika hati mereka menginginkan uang itu, keinginan itu akan membutakan mata mereka dan menghilangkan akal sehat mereka. Mereka tidak mampu melihat bahwa itu adalah satu perangkap.

Mari kita kembali kepada karakter Hawa ini. Kenapa Hawa bisa ditipu oleh Iblis? Bukankah karena ada ketamakan di dalam hatinya? Bukankah, jauh di dalam hatinya Hawa menginginkan sesuatu? Mari kita kembali ke Kejadian 3:6.

Kejadian 3:6 Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

Tentu saja di taman Eden tidak ada uang. Tidak seperti zaman sekarang, tanpa uang tidak ada yang dapat dilakukan. Karena segala sesuatu harus dibeli dengan uang. Namun jauh di dalam hati Hawa, apa yang menjadi keinginannya?

Kita dapat melihat ada 2 hal:
Yang pertama, “Buah pohon itu baik untuk dimakan.”
Hawa ingin makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Mungkin sudah lama dia menginginkannya – “Allah tidak mengizinkanku memakannya. Tapi bagaimana ya rasa buah itu? Manis atau asam? Lembut atau keras? Berair atau tidak terlalu? Oh, kenapa Allah tidak mengizinkan aku untuk memakannya?”

Yang kedua, “Sedap kelihatannya.”
Mungkin buah pada pohon pengetahuan ini memang terlihat indah dan menarik. Ada banyak buah yang lezat tapi tidak selalu sesuai dengan tampilan luarnya. Tapi buah pada pohon ini secara khususnya menyenangkan bagi Hawa. Mungkin saja setiap kali Hawa datang ke taman Eden untuk memetik tanaman, dia selalu mengagumi buah yang ada pada pohon kebijaksanaan ini. Mungkin dia berkata dalam hatinya, “Kelihatannya inilah buah yang paling baik”.
Tentu saja ketika Anda menemukan sesuatu yang menarik, Anda ingin menyentuhnya, Anda ingin memilikinya, dan seterusnya Anda ingin menikmatinya.

Yang ketiga, “Pohon itu menarik hati dan memberi pengertian”.
Hal ini sangat menarik bagi manusia, karena setelah makan buah ini maka dia akan menjadi bijaksana sama seperti Allah. Ini adalah jalan pintas untuk mendapatkan sesuatu tanpa membayar.

Jadi ketiga keinginan inilah yang ada di dalam hati Hawa. Dia menginginkan ketiga hal ini, dan keserakahan yang ada di dalam hatinya membuatnya mempercayai perkataan Iblis dan berujung dengan dia mengambil buah itu dan memakannya.

Lalu, apakah akar penyebab yang membuat Hawa jatuh ke dalam dosa? Penyebabnya adalah keinginan hatinya yang serakah.

Mari kita membuka Yakobus 1:13-15 di dalam Perjanjian Baru.

Yakobus 1:13-15 Apabila seorang dicobai, janganlah ia berkata: “Pencobaan ini datang dari Allah!” Sebab Allah tidak dapat dicobai oleh yang jahat, dan Ia sendiri tidak mencobai siapapun.
Tetapi tiap-tiap orang dicobai oleh keinginannya sendiri, karena ia diseret dan dipikat olehnya. Dan apabila keinginan itu telah dibuahi, ia melahirkan dosa; dan apabila dosa itu sudah matang, ia melahirkan maut.

(Kata “keinginan”  atau “ephitumia” dalam bahasa Yunani diterjemahkan dengan kata “lust” atau “nafsu” dalam terjemahan KJV dan NAS,  sementara dalam terjemahan ITB, kata ini diterjemahkan hanya dengan kata “keinginan”).

Yakobus dengan jelas mengatakan, ketika manusia tertipu dan berdosa, dia tidak dapat menyalahkan Allah.

Hawa, saat dia berbuat dosa, ia pun menuduh ular-lah yang telah menipunya. Dan ketika Adam berdosa, dia mengatakan hal itu adalah dikarenakan oleh Hawa. Namun maksud di balik kata-kata ini adalah, mereka sedang menyalahkan Allah. Karena Allah-lah yang telah menyediakan seorang istri bagi Adam. Dan Allah juga yang telah menciptakan ular dan mengizinkan ular itu untuk tinggal di taman Eden. Mungkin nenek moyang kita ini tidak mengucapkannya, tapi mereka berkata di dalam hati, “Lho, tolong jangan salahkan saya! Kenapa Engkau membiarkan saya mengalami peristiwa semacam ini?”
Namun dengan jelas Yakobus berkata, “Anda berbuat dosa, maka jangan salahkan Allah. Anda  berbuat dosa karena nafsu yang ada di dalam Anda”. Di mana ada “keinginan” di situlah akan ada dosa. Itulah sebabnya Hawa berbuat dosa.

Sekalipun Hawa digoda oleh ular, Allah tetap menghakimi Hawa setelah Dia menghakimi si ular. Karena akar penyebab seseorang tertipu dan melakukan dosa adalah karena keinginannya sendiri.

Ketika Anda ada keinginan Anda akan tergoda dan jatuh ke dalam dosa.
Kata “keinginan (lust/ephithumia)” yang ditemukan di dalam buku Yakobus ini, dalam dalam bahasa aslinya (bahasa Yunani), diartikan sebagai hasrat, berahi, hawa nafsu atau keinginan. Kata ini muncul sebanyak 54 kali dalam Perjanjian Baru. Kata ini diterjemahkan sebagai, “keinginan, nafsu atau ketamakan”. Semua kata-kata ini muncul dari kata Yunani yang sama. Secara sederhananya kita menyebutnya sebagai “keinginan, nafsu atau berahi”.

Sekarang kita dapat mengerti kenapa nenek moyang kita jatuh dalam dosa. Mungkin kita berpikir hal itu terjadi karena mereka terlalu tolol, mereka tidak dapat mentaati perintah yang sederhana itu. Sebenarnya nenek moyang kita tidaklah lebih parah dari kita. Kita sama seperti mereka. Kita semua memiliki “keinginan atau hawa nafsu” di dalam kita. Itulah sebabnya manusia cenderung untuk jatuh ke dalam dosa. Seiring dengan berjalannya waktu, kecenderungan untuk berbuat dosa itu akan menjadi semakin kuat. Hal ini adalah karena adanya keinginan di dalam tubuh daging manusia. Inilah yang memberi izin kepada Iblis untuk menggoda kita untuk jatuh ke dalam dosa. Keinginan atau hawa nafsu adalah akar permasalahan manusia. Allah sangat jelas akan hal ini.
Di dalam Perjanjian Lama Anda akan menemukan Allah sering memberi perintah jangan melakukan ini dan jangan melakukan itu. Sebenarnya  Allah sedang menolong manusia untuk menangani keinginan atau hawa nafsu mereka. Sebab hanya ketika keinginan ini dibereskan maka kita tidak akan berbuat dosa.

Perintah yang diberikan Allah pada Adam dan Hawa adalah jangan makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Pesannya adalah janganlah memikirkan untuk mendapatkan buah dari pohon itu. Singkirkan hasrat kamu untuk buah itu. Sebenarnya ini adalah untuk melindungi mereka agar tidak jatuh ke dalam dosa. Namun Allah tidak memberikan mereka alasan secara mendetail.

Kita dapat memahami satu prinsip di sini; ada kalanya Allah meminta Anda untuk melakukan sesuatu tetapi belum tentu Dia memberi kita suatu alasan. Apakah kita memiliki iman untuk terus maju dan melakukan seperti apa yang Allah katakan? “Aku mempercayai Allah, bahkan pada saat Allah tidak menjelaskan alasannya kepadaku”.

Boleh jadi, sekalipun Allah mengatakan alasannya pada waktu itu, mungkin Adam dan Hawa masih kesulitan untuk mengerti. Sampai waktu yang tepat nanti tiba, pasti Allah akan akan memberitahu mereka. Namun apakah kita mempunyai iman semacam itu?
Mari kita melihat kembali pada sepuluh perintah yang diberikan Allah kepada umatNya. Ini tercatat di Keluaran 20:1-17. Karena perikop ini cukup panjang, kita tidak akan membacanya di sini. Kita hanya akan berpusat pada lima perintah terakhir diayat 13-17.

Keluaran 20:13-17
Jangan membunuh.
Jangan berzinah.
Jangan mencuri.
Jangan mengucapkan saksi dusta tentang sesamamu.
Jangan mengingini rumah sesamamu; jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”

Pada lima perintah terakhir ini Allah terus berkata, “Jangan, jangan, jangan….”
Allah sebenarnya sedang berurusan dengan dengan masalah mereka yaitu masalah keinginan dan ketamakan.
Perintah, “Jangan membunuh!” Dalam situasi seperti apa seseorang akan membunuh? Hal ini selalunya berhubungan dengan keserakahan. Kita mau mendapatkan sesuatu walaupun dengan cara kekerasan. Peribahasa Tionghoa mengatakan “Kamu membunuh karena kamu mengingini uang dan harta”

Perintah, “Jangan berzinah!” Hal ini adalah persoalan hawa nafsu seksual, suatu bentuk keserakahan juga. Ketika Anda melihat sesuatu yang menarik yang merupakan milik orang lain, Anda ingin mendapatkannya, Anda ingin memilikinya.
Perintah, “Jangan mencuri!” Kenapa seseorang ingin mencuri? Itu karena dia ingin mendapatkan milik orang lain.
Perintah, “Jangan mengucapkan saksi dusta terhadap sesamamu!” Kenapa seseorang mau membuat kesaksian palsu untuk melukai sesama? Karena dia ingin mendapatkan beberapa keuntungan.
Perintah terakhir sangat jelas. “Jangan mengingini isterinya, atau hambanya laki-laki, atau hambanya perempuan, atau lembunya atau keledainya, atau apapun yang dipunyai sesamamu.”
Pada intinya, semua perintah ini adalah untuk menangani keserakahan yang ada di dalam hati manusia! Allah memberikan sepuluh perintah ini bagi umat Israel untuk menangani keinginan manusia. Jika mereka dapat menghilangkan keinginan atau hawa nafsu ini maka mereka tidak akan jatuh ke dalam dosa. Namun kita tahu bahwa Israel tetap gagal. Israel tidak berhasil menangani persoalan ini.

Mari kita melihat satu ayat 1 Yohanes 2:15-16.

1 Yohanes 2:15-16 Janganlah kamu mengasihi dunia dan apa yang ada di dalamnya. Jikalau orang mengasihi dunia, maka kasih akan Bapa tidak ada di dalam orang itu. Sebab semua yang ada di dalam dunia, yaitu keinginan daging dan keinginan mata serta keangkuhan hidup, bukanlah berasal dari Bapa, melainkan dari dunia.

Sampai pada pembacaan ini kita menemukan bahwa Rasul Yohanes sedang menangai tiga keinginan yang menyebabkan Hawa jatuh ke dalam dosa.
Keinginan daging adalah perkataan yang sama dengan “enak dimakan”. Makan merupakan suatu keinginan    daging. Keinginan mata mempunyai maksud yang sama dengan “sedap kelihatannya”, sesuatu yang indah, yang menyenangkan untuk dilihat. Keangkuhan hidup sama dengan keinginan atau hasrat untuk menjadi seorang yang bijak.

Apa yang menyebabkan seseorang menjadi sombong? Tentu saja hikmat atau pengetahuan. Ketika seseorang mempunyai banyak sekali pengetahuan, punya gelar akademik yang tinggi, atau satu bakat yang luar biasa, hal-hal itulah yang merupakan akar penyebab yang menjadikan dirinya angkuh.

Rasul Yohanes mengingatkan kita untuk tidak mengasihi dunia. Apa itu dunia? Dunia pada intinya berfungsi atas dasar keinginan dan hawa nafsu. Itulah sifat dunia. Ketika Anda melihat berita di televisi, tidak sulit menemukan bahwa keinginan dan hawa nafsu ditemukan di semua tempat. Kekerasan dan pornografi seringkali adalah fokus berita yang bahkan menjadi judul film dan mencirikan budaya masa kini. Mulai dari hubungan secara internasional sampai pada hubungan pribadi, banyak intrik dan perselisihan yang terjadi karena keinginan. Manusia dunia disibukkan demi keinginan mereka untuk mendapatkan uang dan keuntungan.
Sekiranya kita merasakan berita yang dilaporkan dalam surat kabar dan di televisi itu terjadi jauh dari kita, maka lihatlah di sekeliling kita. Hal-hal yang terjadi pada kerabat atau sahabat kita. Saya melihat dengan mata saya sendiri kegagalan pernikahan beberapa teman dan juga saudara yang ditinggalkan oleh suami mereka. Sumpah setia sampai mati tidak ada nilainya karena suami mereka digoda oleh hawa nafsu mereka dan meninggalkan mereka demi kekasih yang baru. Saat berhadapan dengan mereka, saya tidak tahu bagaimana untuk menghibur mereka.

Yohanes memperingatkan semua orang untuk tidak jatuh ke dalam 3 keinginan ini. Jika tidak, kita juga akan meninggalkan Allah sama seperti Hawa. Meninggalkan Allah adalah akibat dari kejatuhan ke dalam dosa.

Kenapa Yohanes memperingatkan gereja? Karena Yohanes ingin kita melihat bahwa menjadi seorang Kristen, dan bergabung di dalam gereja, tidaklah berarti kita telah bebas dari keinginan-keinginan ini. Jika kita tidak berhati-hati, keinginan dan hawa nafsu tetap akan menguasai kita. Keinginan kita bisa menggoda kita untuk tersandung dan berbuat dosa. Seperti halnya Hawa dan Adam yang walaupun ada di dalam hadirat Allah, dan telah diberikan suatu perintah untuk melindungi mereka dari berbuat dosa, namun mereka tetap saja gagal. Mereka gagal karena keinginan dan hawa nafsu mereka.
Kita perlu melihat ke dalam diri kita, apakah kita sudah mengizinkan keinginan-keinginan dan hawa nafsu untuk hadir dan menguasai hati kita?

Kesimpulan
Pertanyaan yang sudah kita pelajari hari ini adalah, kenapa Hawa tertipu oleh Iblis dan berbuat dosa? Mengapa Hawa bisa tertipu oleh Iblis?
Ketika kita menggali lebih dalam, kita menemukan bahwa hal itu terjadi karena adanya keinginan di dalam hati Hawa. Hal yang sama pun berlaku bagi kita.
Kenapa kita tertipu dan berakhir dengan melakukan dosa? Kita jatuh karena dorongan keinginan hati kita. Iblis akan memanfaatkan keinginan kita untuk mempermainkan kita dan menipu kita. Jadi hawa nafsu atau keinginan merupakan akar dari permasalahan manusia.

Kita harus mempertimbangkan dan merenungkan beberapa pertanyaan: Jika keinginan adalah akar permasalahan manusia, lalu dari manakah asalnya keinginan ini? Kenapa Hawa mempunyai keinginan dan hasrat yang kuat untuk memakan buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat? Apakah buah pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat ini memang buah yang terbaik di taman Eden? Apakah memang buah itu terlihat indah dan rasanya sangat lezat? Setidaknya, itulah yang menjadi pemikirkan Hawa. Tidakkah apa yang Iblis katakan itu terdengar seperti Allah sengaja tidak mau memberikan yang terbaik untuk Adam dan Hawa? Kita akan mempelajari pertanyaan-pertanyaan ini pada kesempatan yang lain.

Study Karakter - Hawa 1

Metode yang dipakai Iblis untuk Menipu Hawa

Tokoh yang kita mau pelajari hari ini adalah: Hawa. Sebelumnya, kita sudah mempelajari tentang Adam. Sebenarnya sangat sulit untuk mengkaji kedua tokoh ini secara terpisah karena mereka adalah suami dan istri. Semua kejadian di Eden berhubungan dengan mereka berdua. Jadi, melalui pengkajian tentang Hawa, kita berharap untuk memahami Adam dan Hawa secara lebih lengkap.

Peristiwa tentang Hawa tercatat di kitab Kejadian pasal 2-4. Setelah Allah Yahweh menciptakan Adam, Dia mengatakan bahwa tidak baik kalau Adam hidup seorang diri, maka Allah menciptakan bagi Adam seorang pasangan untuk menolongnya. Lalu, pada suatu hari, Allah membuat Adam tidur nyenyak, dan mengambil salah satu rusuknya untuk menciptakan seorang perempuan. Ketika Adam bangun, dia berkata: Inilah dia, tulang dari tulangku dan daging dari dagingku! Adam memberinya nama, yaitu Hawa. Arti dari nama ‘Hawa’ adalah – kehidupan, orang yang memberi kehidupan. Hawa adalah ibu kepada semua manusia.

Adam dan Hawa tinggal bersama-sama siang dan malam serta mengurus Eden bersama-sama. Namun hari-hari yang menyenangkan tidak bertahan lama. Hawa tidak menuruti perintah Allah sampai pada akhirnya. Dia memakan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat meskipun Allah telah perintahkan kepada mereka agar tidak memakannya. Hawalah yang pertama melakukan dosa. Sesudah itu, suaminya mengikuti teladannya, maka mereka berdua jatuh dalam dosa. Akibatnya mereka diusir dari Eden.

Kita perlu bertanya mengapa Hawa berbuat dosa? Hawa adalah manusia pertama yang telah berbuat dosa. Jadi dengan memahami alasan mengapa Hawa berbuat dosa, kita juga dapat memahami kenapa kita sendiri melakukan dosa. Hal ini juga akan membawa kita untuk mengetahui bagaimana untuk menghindari dosa secara efektif.

Mari kita buka Kejadian 3:1-6. Ini satu-satunya bagian Alkitab yang menuliskan seluruh proses bagaimana Hawa jatuh ke dalam dosa.

Kejadian 3:1-6, Adapun ular ialah yang paling cerdik dari segala binatang di darat yang dijadikan oleh TUHAN Allah. Ular itu berkata kepada perempuan itu: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”
Lalu sahut perempuan itu kepada ular itu: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman: Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.”
Tetapi ular itu berkata kepada perempuan itu: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
Perempuan itu melihat, bahwa buah pohon itu baik untuk dimakan dan sedap kelihatannya, lagi pula pohon itu menarik hati karena memberi pengertian. Lalu ia mengambil dari buahnya dan dimakannya dan diberikannya juga kepada suaminya yang bersama-sama dengan dia, dan suaminya pun memakannya.

Dari ayat-ayat ini, kita dapat melihat bahwa di Eden, ada satu musuh Allah – yang juga merupakan musuh Adam dan Hawa. Pada masa kini, tokoh ini juga adalah musuh kita, yaitu ular itu. Ular adalah Iblis, kita dapat melihat pokok ini di Wahyu 12:9 :

Wahyu 12:99 Dan naga besar itu, si ular tua, yang disebut Iblis atau Satan, yang menyesatkan seluruh dunia,…

Sejak nenek moyang kita yang pertama sampai sekarang, bahkan sampai hari yang digambarkan di dalam kitab Wahyu sebagai zaman akhir, Iblis sedang melakukan pekerjaannya tanpa berhenti-henti untuk mengelirukan manusia dan membuat mereka jatuh dalam dosa. Nenek moyang pertama, yaitu Hawa telah melakukan dosa karena dia telah dikelirukan oleh Iblis. Itu berarti si ular adalah yang pelaku di balik semunya.

Bagaimana Iblis berhasil menyesatkan Hawa? 

Iblis juga ingin Berbicara dengan Manusia

Pertama-tama, kita melihat bahwa ia telah mengambil inisiatif untuk berbicara kepada Hawa. Kita harus sadar bahwa Allah mau berbicara kepada kita, demikian juga Iblis. Itulah sebabnya pada zaman Israel, nabi-nabi palsu sering berbicara dengan penuh keyakinan: Allah telah mengatakan ini dan itu kepadaku… mereka mengutip Allah padahal mereka sedang menyesatkan bangsa Israel.
Sebagai umat Kristen, kita sering berdoa dan berkomunikasi dengan Allah, Allah juga ingin berbicara kepada kita. Tetapi berwaspadalah, kita harus membedakan apakah komunikasi itu berasal dari Allah atau dari Iblis. Dalam kenyataannya, Iblis sangat senang berbicara kepada banyak orang-orang Kristen, terutama kepada pengkhotbah-pengkhotbah yang tidak kudus itu. Mereka berpikir bahwa Allahlah yang berbicara kepada mereka padahal bukan.

Saya secara pribadi pernah menyaksikan hal seperti ini. Terdapat seorang Kristen KTP, dia telah melakukan dosa yang sangat serius. Meskipun begitu, dia bukan hanya tidak mau bertobat, bahkan dia terus-menerus berkata bahwa Allah telah mengatakan ini dan itu kepadanya. Hal ini membuatnya betul-betul menyakini bahwa dia baik baik saja dan tidak sedang hidup dalam dosa. Orang-orang di sekitarnya disesatkan oleh kata-katanya: karena mereka berpikir jika Allah berbicara kepadanya, maka keadaan rohaninya pasti tidak bermasalah dan bahkan lebih baik dari yang lain.

Jika kita tahu jelas bahwa Iblis juga berbicara kepada kita, bahkan ia mengambil peran yang lebih aktif dan berinisiatif, maka kita tidak akan dikelirukan dengan kata-kata seperti itu.

Mari kita kembali kepada kasus Hawa, bagaimana si ular mulai berbicara kepada Hawa? Ia mengambil inisiatif untuk mendekati Hawa dan bertanya kepadanya: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”
Iblis langsung mengarahkan topik pada perintah yang diberikan Allah kepada mereka untuk tidak memakan buah itu. Ia tidak berbicara tentang hal lain tetapi langsung menuju topik tentang perintah Allah. Kita akan dapati, sebenarnya Iblis sangat mengerti kehendak Allah. Ketika kita melihat seluruh percakapan antara Iblis dan Hawa kita dapat dengan jelas melihat hal ini. Iblis sangat mengerti kehendak Allah. Setidaknya Iblis mengetahui apa kehendak Allah bagi manusia. Misalnya, di Eden, ia tahu apa yang diperintahkan Allah kepada Adam dan Hawa. Saya rasa Iblis lebih mengetahui kehendak Allah ketimbang Adam dan Hawa. Itu sebabnya Iblis dapat memberi Hawa informasi mengenai pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat – kita akan mempelajari pokok ini dengan lebih detail nanti. Sebenarnya Iblis tahu bahwa Allah memiliki rencana yang baik bagi manusia. Itu sebabnya ia ingin melakukan segala sesuatu untuk memasang perangkap agar manusia tidak akan menikmati apa yang telah Allah siapkan bagi manusia dengan membuat mereka jatuh ke dalam dosa. Karena Iblis tidak ingin melihat rencana Allah untuk manusia terlaksana.

Metode Iblis – Menabur bibit Keraguan di dalam hati Manusia terhadap Allah.
Saya rasa Adam dan Hawa tidak menyadari hal ini. Sama seperti kita pada zaman ini, kita tidak tahu apa-apa tentang rencana Allah yang indah bagi kita. Tetapi Iblis tahu. Itu sebabnya ketika Allah mulai bekerja, Iblis juga akan mulai bekerja.
Di Kejadian, ketika Allah baru saja menciptakan Adam dan Hawa, Iblis langsung datang menggoda Hawa. Sebenarnya, kita dapat melihat gambaran ini di mana-mana di seluruh Alkitab. Sampai ke hari ini, hal yang sama juga tetap terjadi. Yaitu, setiap kali Allah memulai pekerjaanNya, Iblis juga segera datang merusaknya. Jika Anda seorang Kristen yang berpengalaman, maka Anda akan menyadari hal ini.

Mari kita kembali ke Kejadian. Jadi, Iblis sebenarnya tahu apa yang telah diperintahkan Allah. Lalu, ia mulai menggunakan perintah Allah sebagai pokok perbicaraan dengan Hawa. Ia bertanya kepada Hawa: “Tentulah Allah berfirman: Semua pohon dalam taman ini jangan kamu makan buahnya, bukan?”
Lalu, Hawa menjawab berdasarkan pertanyaannya dengan menjelaskan: “Buah pohon-pohonan dalam taman ini boleh kami makan, tetapi tentang buah pohon yang ada di tengah-tengah taman, Allah berfirman, ‘Jangan kamu makan ataupun raba buah itu, nanti kamu mati.'”
Setelah percakapan sudah mulai, bagaimana pula Iblis melanjutkan pembicaraannya dengan Hawa? Ia berkata: “Sekali-kali kamu tidak akan mati, tetapi Allah mengetahui, bahwa pada waktu kamu memakannya matamu akan terbuka, dan kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat.”
Jahat sekali kalimat itu!
Allah telah memberi kepada Adam dan Hawa dua pesan: Yang pertama, tidak boleh makan; Yang kedua, maut pasti datang ketika makan. Tetapi Iblis memberi Hawa tiga pesan: Yang pertama, boleh makan; Yang kedua, tidak akan mati; Yang ketiga, setelah makan, kamu akan menjadi seperti Allah, tahu tentang yang baik dan yang jahat. Hal yang sangat mengerikan! Pesan pertama dan kedua sama sekali menyangkal kedua pesan Allah. Bukan hanya itu, Iblis bahkan memberi pesan ketiga dan membuat orang berpikir bahwa: Allah sengaja menyembunyikan pesan ini dan tidak ingin kamu tahu. Mari saya (si ular) beritahu kamu, sesungguhnya, Allah itu sangat egois. Dia takut bahwa ketika kamu makan buah ini, kamu akan menjadi seperti diri-Nya. Itulah alasan kenapa Dia tidak ingin kamu makan; Untuk menghentikan kamu dari memakannya, Dia memakai maut untuk mengancam kamu dan menyamarkan diri-Nya sebagai orang yang baik terhadap kamu.
Metode yang mengerikan untuk menimbulkan jarak di antara dua orang!

Apakah Anda tahu cara yang terbaik untuk merusak hubungan orang? Caranya adalah dengan menaburkan benih keraguan dan membuat kamu ragu terhadap orang tersebut. Cukup untuk menghilangkan kepercayaan kamu terhadap orang itu. Karena, di tahap selanjutnya, hubungan antara kedua orang itu akan menjadi hancur.

Pada zaman tiga Kerajaan di dalam sejarah Tiongkok kuno, ada seorang yang sangat terkenal yang bernama Cao Cao (曹操) (ucapan Mandarin digunakan di sini). Dalam sejarah, Cao Cao dipanggil sebagai ‘pahlawan licik’. Dari nama ini, kita tahu bahwa dia seorang yang cukup licik. Dalam suatu kejadian, dia memimpin tentaranya untuk berperang. Jendral lawannya seorang prajurit yang muda, cakap dan mahir. Namanya Ma Chao (马超). Namun kelemahannya adalah mudah membabi-buta namun dia mempunyai paman yang mahir dalam mengatur strategi. Maka bekerjasamalah kedua orang ini, yang satu ahli strategi yang mahir dan yang satu lagi cakap dalam berperang, untuk melawan Cao Cao. Akibatnya Cao Cao tidak mampu memenangkan peperangan setelah suatu jangka waktu.
Apa yang harus dilakukan? Cao Cao memikirkan suatu perencanaan yang cukup keji – pantas semua orang memanggilnya ‘pahlawan licik’. Dalam pesan yang lalu, ketika mengkaji tentang tokoh Adam, kita juga menyebut sebuah cerita tentang Cao Cao. Dia memakai nama ibunya XuShu (徐庶) untuk menulis surat kepada Xu Shu. Akibatnya Xu Shu tertipu dan meninggalkan Liu Bei (刘备).
Dalam cerita yang kita bicarakan sekarang ini, Cao Cao juga menulis surat. Surat itu ditujukan kepada pamannya Ma Chao. Tetapi di surat ini, dia sengaja menggunakan tinta untuk melakukan banyak perubahan sehingga banyak kata-kata kelihatan seperti dicoret secara sengaja. Ketika pamannya Ma Chao membaca surat itu, Ma Chao datang, lalu bertanya, “Paman, benarkah Cao Cao telah menulis surat kepadamu?”
Pamannya berkata, “Ya!”
“Bolehkah saya lihat?”
“Boleh, tetapi saya tidak mengerti apa yang ingin Cao Cao sampaikan.”
Ketika Ma Chao membacanya, “Oh! Kenapa begitu banyak kata-kata yang sudah dicoret? Apakah paman takut aku membacanya? Apakah ada transaksi pribadi antara kalian?”
Ma Chao dari awal seorang yang membabi-buta. Dia segera jatuh ke dalam perangkapnya Cao Cao. Akibatnya, dia mulai tidak percaya kepada pamannya. Kemudian mereka tidak lagi bisa berperang bersama-sama. Pada akhirnya, pamannya disudutkan oleh Ma Chao secara paksa. Lalu, Ma Chao terpaksa menyerah kepada Cao Cao. Akhirnya, Cao Cao meraih kemenangan.
Metode Cao Cao, yang menimbulkan keraguan di antara mereka sangat mengerikan. Dia menanamkan benih ketidak-percayaan dan membuat Ma Chao ragu dan hilang kepercayaan terhadap pamannya. Pada akhirnya, hubungan antara paman dan keponakan menjadi rusak, itu sebab mereka saling mengkhianati.

Iblis sudah terbiasa dengan memakai cara ini. Ia menaburkan benih keraguan dan membuat Hawa ragu terhadap Allah dan tidak percaya Allah. Dan pada akhirnya Hawa mengkhianati Allah. Tetapi Cao Cao hanya menulis surat dengan kata-kata yang samar yang telah dihapus dan dicoret. Tindakan itu hanya untuk menimbulkan suatu keraguan yang sebetulnya bukan apa-apa, tetapi sudah cukup untuk membuat Ma Chao terjerat oleh perangkapnya. Secara perbandingan, strategi Iblis jauh lebih hebat lagi.

Mari kita baca dengan teliti pesan yang disampaikan Iblis kepada Hawa.

Metode Menyembunyikan Kepalsuan di tengah-tengah Kebenaran.
Iblis memberitahu Hawa: Setelah memakan buah ini, kamu tidak akan mati. Lebih dari itu, kamu akan menjadi seperti Allah. Kamu akan mengetahui tentang yang baik dan yang jahat.
Yang dikatakan di sini benar atau salah? Jujur kata, sebagian benar, karena setelah makan, mereka tidak mati secara langsung. Bahkan Adam hidup sampai usia 930 tahun, hampir seribu tahun! Setelah makan, mata mereka benar-benar terbuka. Dan mereka menjadi seperti Allah, mengetahui tentang yang baik dan yang jahat.

Mari kita baca Kejadian 3:7, “Maka terbukalah mata mereka berdua”

Baca3:22, “Berfirmanlah TUHAN Allah: “Sesungguhnya manusia itu telah menjadi seperti salah satu dari Kita, tahu tentang yang baik dan yang jahat…”
Jadi, kita dapat melihat bahwa sebagian dari apa yang diucapkan Iblis itu benar. Artinya, ada beberapa hal yang benar di dalamnya. Namun apakah semua itu benar? Tidak, karena akibat dari Adam dan Hawa memakan buah itu adalah mereka harus menghadapi maut.

Sebelumnya, kita telah belajar bahwa manusia terdiri dari dua bagian yakni daging dan roh. Akibat dari kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa adalah mereka harus menghadapi kematian secara rohani. Bagian tentang ‘menjadi seperti Allah’ tidaklah seperti yang dibayangkan oleh Hawa. Jadi, kita bisa melihat di sini bahwa kata-kata Iblis separuh betul and benar. Hal inilah yang menjadikannya begitu bahaya dan mengerikan. Ada pepatah yang mengatakan: Kebenaran setengah-setengah adalah kekeliruan. Pepatah itu benar. Jika semuanya adalah kebohongan, maka kita tidak akan terperangkap. Hal yang paling buruk adalah ketika terdapat kebenaran dalam suatu kebohongan. Dalam situasi seperti ini, sangatlah sulit untuk membedakan. Iblis sangat cakap dalam hal itu. Jadi, ketika ia coba menipu manusia, ia menjadikan sesuatu separuh benar dan separuh palsu. Ia membuat kita berpikir bahwa semuanya benar, bahwa itulah yang disampaikah oleh Allah. Tetapi sebenarnya, Iblis sedang menanamkan buah pikiran yang keliru yang berlawanan total dengan jalan Allah. Ketika Anda tidak tahu bagaimana membedakannya, Anda akan jatuh ke dalam perangkap. Itulah yang terjadi dengan Hawa, dia tidak berusaha membedakan kata-kata Iblis. Malah, dia percaya tanpa ragu, dan karena itu dia memakan buah yang tidak seharusnya dia makan.

Banyak yang sudah percaya pada Kepalsuan yang ditabur Iblis di tengah Umat Percaya.
Sebenarnya, pada zaman ini kita tidaklah lebih pintar dari Hawa dalam cara apapun. Kita masih sering dikelirukan oleh Iblis dan mudah menerima kata-katanya. Misalnya, di dalam gereja, selalu ada orang-orang Kristen yang melakukan dosa tetapi mereka tidak peduli akan hal ini dan tidak mau bertobat. Meskipun ada beberapa yang bertobat secara lisan, tetapi dari kelakuan mereka, menunjukkan bahwa mereka belum berubah. Teori mereka adalah: Itu tidak penting. Manusia itu memang lemah tetapi Allah mengasihi kita sampai akhirnya, Dia tidak akan meninggalkan saya karena dosa saya.
Sejak saya menjadi Kristen, saya menjadi anak-Nya, Dia akan mengasihi saya sampai akhirnya. Namun apakah ini firman Allah di dalam Alkitab? Tidak, saya harus katakan: Kata-kata ini berasal dari Iblis. Tidakkah kamu rindu mengejar hal-hal yang rohani? Tidakkah kamu ingin mengejar kehidupan yang kekal? Jika ya, saya (Iblis) juga ingin membicarakan hal ini denganmu: Kamu sudah memilikinya. Karena kamu sudah membuat perjanjian dengan Allah, dan karena kamu sudah mengalami Allah, maka Anda sudah memiliki keselamatan kekal. Tidak peduli apa yang kamu lakukan di masa depan, kamu tetap anak-anak Allah. Dia tidak akan meninggalkan kamu dan membiarkan kamu terlantar. Apapun cara kamu menjalani hidupmu, apapun jenis dosa kamu lakukan di kemudian hari, Dia tetap mengasihimu sampai akhirnya.
Memang benar Allah mengasihi kita sampai akhirnya. Tetapi ada satu hal yang akan membuat Allah mengeluarkan kita dari rumah-Nya. Yaitu jika kita melakukan dosa. Ini terjadi dengan Adam dan Hawa. Bukankah mereka anak-anak Allah? Sudah tentu ya. Allah sendiri yang menciptakan mereka.
Lukas 3:38 mengatakan bahwa: Adam adalah anak Allah. Mereka memiliki hubungan yang lebih intim dengan Allah daripada kita. Mereka dapat berbicara dengan Allah berhadapan muka. Mereka dapat jalan-jalan bersama Allah. Namun pada akhirnya, mereka tetap diusir dari Eden oleh Allah karena melakukan dosa.

Mari kita lihat pada bangsa Israel, Alkitab juga mengatakan bahwa Israel adalah anak Allah. Allah secara pribadi mengerjakan mukjizat-mukjizat untuk menyelamatkan mereka dan membebaskan mereka dari Mesir – negeri yang paling kuat di dunia pada saat itu, sama seperti Amerika Serikat di zaman ini. Dan pada saat itu, Israel bahkan bukan sebuah negara. Mereka tidak memiliki pasukan tentara, mereka hanyalah sekelompok pengungsi. Sangatlah sulit untuk kita bayangkan bagaimana sekelompok pengungsi ini dapat mengatasi pasukan yang kuat seperti Amerika Serikat. Namun pada saat itu, Israel benar-benar berkemenangan dalam melawan pasukan Mesir yang kuat. Kenapa? Karena Allah Yahweh berperang bagi mereka dan menyelamatkan mereka dari Mesir. Lalu, Allah membawa mereka ke suatu negeri yang berlimpah-limpah susu dan madu, yaitu negeri Kanaan. Allah memberikan negeri ini menjadi hak milik mereka. Allah juga membuat perjanjian dengan mereka, itulah yang disebut Perjanjian Lama (Old Covenant) dalam Alkitab. Israel juga pernah menjadi negeri yang kuat di dunia pada saat itu. Namun pada akhirnya, Israel dibuang oleh Allah dan negeri itu lenyap selama dua ribu tahun. Alkitab mengatakan bahwa itu adalah karena umat pilihan telah melakukan dosa dan tidak mau bertobat. Sampai ke saat ini, Israel tidak lagi dapat melakukan korban persembahan kepada Allah sesuai dengan Perjanjian Lama, karena Bait Suci sudah tidak ada di situ lagi.

Mari kita baca bagian Alkitab di Yeremia 18:7-10. Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan mencabut, merobohkan dan membinasakannya. Tetapi apabila bangsa yang terhadap siapa Aku berkata demikian telah bertobat dari kejahatannya, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak menjatuhkan malapetaka yang Ku rancangkan itu terhadap mereka. Ada kalanya Aku berkata tentang suatu bangsa dan tentang suatu kerajaan bahwa Aku akan membangun dan menanam mereka. Tetapi apabila mereka melakukan apa yang jahat di depan mata-Ku dan tidak mendengarkan suara-Ku, maka menyesallah Aku, bahwa Aku hendak mendatangkan keberuntungan yang Kujanjikan itu kepada mereka.

Jadi, janganlah kita salah mengerti Alkitab. Allah sendiri berfirman kepada Israel melalui nabi tentang hal ini. Bahwa sekalipun Allah telah menyatakan janji berkat kepada kita, namun ketika kita melakukan dosa, Dia akan menarik kembali janji itu. Dan Dia akan membuang dan menghukum kita. Sebaliknya, sekalipun Allah telah menyatakan hukuman terhadap kita, namun ketika kita bertobat, Dia akan menarik kembali pernyataan hukuman itu. Dia akan mengampuni dan menerima kita. Inilah kebaikan-Nya. Akan tetapi, janganlah kita meremehkan kasih karunia-Nya. Jadi, jangan dikelirukan oleh buah pikiran setengah benar dan setengah palsu yang ditanamkan oleh Iblis.

Sampai di sini kita kurang lebih sedikit mengerti kenapa Hawa jatuh dalam dosa. Karena dia sedang berhadapan dengan musuh yang sangat licik dan berpengalaman.

Kesimpulan
Hari ini tokoh yang dibicarakan adalah Hawa. Peristiwa tentang Hawa tertulis di dalam pasal 2-4 di kitab Kejadian. Dia adalah istri kepada Adam, ibu kepada seluruh umat manusia. Jadi, namanya memiliki arti – Hidup, orang yang memberi hidup. Dia adalah orang yang pertama di dalam sejarah umat manusia yang melakukan dosa.
Hari ini kita telah mengkaji satu persoalan: Kenapa Hawa bisa melakukan dosa? Melalui ini, kita juga ingin mengerti kenapa kita bisa melakukan dosa. Kita melihat bahwa di Eden, terdapat satu musuh Allah – yang juga adalah musuh Adam dan Hawa. Ia juga musuh kita di zaman ini. Ia adalah si ular. Ia adalah Iblis. Iblislah telah menggunakan rencana liciknya untuk menipu dan mengelirukan Hawa. Ia membuat Hawa percaya sehingga Hawa memakan buah yang telah dengan sangat jelas Allah perintahkan untuk tidak makan. Dan hal itu membuat Hawa jatuh ke dalam dosa.
Jadi, rencana seperti apa yang digunakan Iblis untuk menipu dan mengelirukan Hawa? Ia menimbulkan kecurigaan di hati Hawa. Iblis menabur benih keraguan di dalam hati Hawa terhadap Allah. Iblis mengambil inisiatif untuk mendekati Hawa dan berbicara kepadanya. Ia memberitahukan kepada Hawa alasan kenapa Allah tidak mengizinkan dia untuk memakan buah. Iblis membuat Hawa curiga dan sangsi dengan berkata bahwa Allah tidak ingin Hawa menjadi seperti-Nya; Allah sangat egois. Jadi, Hawa mulai meragukan Allah dan tidak percaya kepada Allah. Sikap keraguan ini menyebabkan kehancuran dalam hubungan antara Allah dengan Hawa. Kemudian hal ini berakhir dengan pemberontakan.
Pada saat yang bersamaan, kita dapat melihat bahwa apa yang Iblis katakan tidaklah semuanya kebohongan. Ada yang benar dan ada yang palsu. Hal inilah yang paling berbahaya. Ia membuat Hawa sulit untuk membedakan sehingga dia mempercayai semuanya sebagai kebenaran.
Ini yang dapat kita pelajari dari Hawa pada hari ini. Namun sampai di tahap ini, kita masih punya satu persoalan: Kita tahu bahwa Hawa benar-benar ditipu oleh si ular yang mahir dalam hal menipu. Hawa memakan buah terlarang karena ditipu Iblis. Namun pihak yang tertuduh seharusnya si ular itu, harusnya si ularlah yang harus dihukum. Kenapa Allah memperhitungkan hal ini sebagai kesalahan Hawa dan menghukumnya? Bukankah itu tidak adil? Kita simpan pertanyaan ini buat bahan renungan Anda dan kita akan melanjutkan pengkajian ini di lain waktu.

Minggu, 18 Oktober 2015

Study Karakter - Adam 2

Mengapa Hukuman ke atas Adam begitu Berat?

Karakter yang telah kita lihat di sesi yang lalu adalah tentang Adam. Catatan tentang Adam ada di pasal 2 sampai 5 di kitab Kejadian. Adam adalah leluhur kita dan merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah. Melaluinya, kita menerima kehidupan di dalam daging tetapi melaluinya juga dosa telah masuk ke dalam dunia ini dan bertakhta di atasnya.

Di dalam studi kita yang lalu, kita telah mempelajari dua hal dari kehidupan Adam:
Pertama, kita harus mengasihi Allah di atas segalanya.
Adam berbuat dosa, sebagian alasannya adalah karena dia mengasihi Hawa, lebih dari Allah. Karena itu, dia mendengarkan kata-kata istrinya dan bukannya kata-kata dari Allah. Apabila kita mengasihi seseorang atau sesuatu lebih dari Allah, kita akan meninggalkan suatu celah bagi musuh kita. Iblis akan dengan efektif memakai kasih kita itu untuk menyerang kita dan akan membuat kita jatuh.

Kedua, kita juga telah mempelajari bahwa kita tidak boleh memandang ringan akibat dari dosa.
Adam tahu bahwa akibat dari memakan buah itu adalah maut, namun dia tetap memilih untuk memakannya. Akibat dari dosa ini bukanlah sesuatu yang dapat ditanggung oleh Adam karena pelanggarannya bukan saja mengakibatkan kematian rohnya, tetapi juga mempengaruhi keturunan dan seluruh umat manusia. Kita tidak lagi mempunyai Pohon Kehidupan sejak itu dan kita telah menjadi semakin jauh dari Allah. Dari satu angkatan ke angkatan selanjutnya, manusia menjadi semakin jauh setelah melakukan segala macam dosa.
Inilah pelajaran yang kita dapat dari pesan yang lalu.

Hari ini, kita akan melanjutkan untuk mempelajari karakter Adam. Saat melihat pada kutuk dan hukuman yang dijatuhkan pada umat manusia, kita bisa melihat bahwa Adam telah mengakibatkan tragedi yang paling besar di sepanjang sejarah. Namun, dari hal ini kita bisa bertanya, “Saya telah melakukan banyak dosa, lalu apa yang harus saya perbuat?” Kalau melihat pada apa yang terjadi pada Adam, saya pasti sudah tidak punya harapan lagi. Mengapa Allah begitu keras? Apakah saat kita berbuat dosa, kita akan langsung diusir keluar oleh Allah dan Allah tidak lagi mengasih kita? Sekali kita berbuat dosa, kita akan langsung dihukum mati?

Berbicara tentang dosa, terdapat satu karakter di dalam Alkitab, yang dosanya bisa dikatakan jauh lebih berat dibandingkan dengan Adam. Dia menggoda dan membawa pergi istri orang lain dan bahkan membunuh suaminya; dia melakukan dua dosa sekaligus, perzinahan dan pembunuhan. Dua dosa yang menuntut hukuman mati. Namun, Allah memuji orang ini sebagai orang yang mengejar hati-Nya. Allah memberkati dia dan bahkan memberkati keturunannya karena dia. Pada akhirnya, Yesus Kristus juga lahir dari garis keturunannya. Orang ini adalah Daud. Daud adalah Raja Israel. Dosanya yang paling berat adalah perzinahan dan pembunuhan. Peristiwa ini dicatat bagi kita di 2 Samuel pasal 11. Daud jatuh cinta dengan kecantikan seorang perempuan yang bernama Batsyeba dan mereka secara tersembunyi melakukan perzinahan. Akhirnya Batsyeba hamil. Suaminya, Uria, adalah salah satu prajurit di bawah Raja Daud, yang sedang tertempur di medan perang pada waktu itu. Daud mau menutupi perselingkuhannya dengan istri Uria, lalu dia berusaha untuk mengatur Uria kembali agar dia bisa berkumpul bersama istrinya, Bathsyeba. Tetapi, hati Uria berada di medan perang dan dia tidak mau mengambil waktu untuk pulang. Daud melihat bahwa dia tidak dapat menutup perselingkuhannya, lalu dia memerintahkan jenderal di bawahnya untuk mengutus Uria ke garis depan, dengan tujuan agar Uria dibunuh oleh pihak musuh. Setelah Uria mati di tangan musuh, Daud secara terbuka menikahi Bathsyeba.
Daud telah merencanakan dosa yang sedemikian serius, namun, hal itu tidakmenghambat Allah dari menemukan perkenan di dalam dirinya dan memberkatinya. Di dalam Kitab Suci, nama Daud muncul 1085 kali padahal nama Adam hanya muncul 30 kali. Alkitab memuji Daud dan dia juga terdaftar sebagai salah satu teladan-teladan iman di Ibrani 11. Allah senang dan memberkati dia, bahkan setelah kematiannya, Allah memberkati keturunannya demi Daud. Contohnya dapat dilihat di 1 Raja-Raja 11.29-32: “Pada waktu itu, ketika Yerobeam keluar dari Yerusalem, nabi Ahia, orang Silo itu, mendatangi dia di jalan dengan berselubungkan kain baru. Dan hanya mereka berdua ada di padang. Ahia memegang kain baru yang di badannya, lalu dikoyakkannya menjadi dua belas koyakan; dan ia berkata kepada Yerobeam: “Ambillah bagimu sepuluh koyakan, sebab beginilah firman TUHAN, Allah Israel: Sesungguhnya Aku akan mengoyakkan kerajaan itu dari tangan Salomo dan akan memberikan kepadamu sepuluh suku. Tetapi satu suku akan tetap padanya oleh karena hamba-Ku Daud dan oleh karena Yerusalem, kota yang Kupilih itu dari segala suku Israel.”
Salomo adalah putra Daud. Setelah mangkatnya Daud, Salomo mewarisi takhtanya. Namun, di akhir hayat Salomo, dia telah berpaling dari Allah dan melakukan apa yang tidak berkenan pada Allah. Allah dapat saja menurunkan Salomo dari takhtanya, tetapi Allah berkata, karena Daud, Salomo tetap bertakhta agar garis keturunan Daud dapat terus menjadi raja. Kalimat ini sering diulang-ulangi, contohnya, di 1 Raja-raja 15.3-4: “Abiam hidup dalam segala dosa yang telah dilakukan ayahnya sebelumnya, dan ia tidak dengan sepenuh hati berpaut kepada TUHAN, Allahnya, seperti Daud, moyangnya. Tetapi oleh karena Daud maka TUHAN, Allahnya, memberikan keturunan kepadanya di Yerusalem dengan mengangkat anaknya menggantikan dia dan dengan membiarkan Yerusalem berdiri…”
Dengan demikian kita dapat melihat Allah menganggap Daud sebagai orang yang telah dengan sepenuh hati menaati-Nya dan salah satu orang yang berkenan pada-Nya. Pada akhirnya, Mesias juga lahir dari garis keturunan Daud.
Mungkin bagi Anda ini suatu hal yang aneh dan Anda akan bertanya, “Mengapa?” Daud telah melakukan dosa yang begitu berat, mengapa Allah masih berkenan padanya? Bandingkan dosa Daud dengan dosa Adam, yang kelihatannya berbuat dosa yang lebih ringan, tetapi malah menerima penghukuman yang lebih berat, mengapa? Apakah Allah tidak adil? Tentu saja, ini bukan karena Allah tidak berbuat adil, karena kalau kita mendalami Kitab Suci, kita melihat keadilan, kasih sayang dan kebaikan Allah.

Mari kita membaca di Mazmur 51. Pendahuluannya berbunyi: “Untuk pemimpin biduan. Mazmur dari Daud, ketika nabi Natan datang kepadanya setelah ia menghampiri Batsyeba.”
Seluruh Mazmur 51 adalah pertobatan yang Daud persembahkan pada Allah: “Kasihanilah aku, ya Allah, menurut kasih setia-Mu, hapuskanlah pelanggaranku menurut rahmat-Mu yang besar! Bersihkanlah aku seluruhnya dari kesalahanku, dan tahirkanlah aku dari dosaku! Sebab aku sendiri sadar akan pelanggaranku…..”
Di dalam Mazmur ini, Daud dengan tulus dan bersungguh-sungguh memohon kepada Allah untuk mengampuni dosa-dosanya, untuk membersihkan dia dan untuk tidak meninggalkan dia, agar dia dapat terus mempersembahkan persembahan dan pujian kepada Allah. Apakah perbedaan di antara Daud dan Adam? Keduanya telah berbuat dosa tetapi apa reaksi mereka setelah itu?
Pilihan Daud adalah untuk pergi kepada Allah dan bertobat dengan bersungguh-sungguh dan meminta Alalh untuk membantunya; dan Allah membantu dia, mengampuninya, menerimanya dan memberkatinya. Allah kita adalah Allah yang murah hati dan baik; Dia tidak akan meninggalkan kita dan menghukum setelah kita melakukan dosa. Manusia memang begitu. Saat kita melihat orang berbuat dosa, kita akan menghakimi mereka berdasarkan hukum dan menjatuhkan hukuman. Allah tidak demikian. Dia akan memberikan kita jalan keluar, suatu kesempatan, yaitu kesempatan untuk bertobat. Selagi kita bertobat, Dia akan sekali lagi menerima kita. Itulah pengalaman Daud.
Namun, Adam melakukan yang berlawanan. Mari kita baca Kej 3.8: “Ketika mereka mendengar bunyi langkah TUHAN Allah, yang berjalan-jalan dalam taman itu pada waktu hari sejuk, bersembunyilah manusia dan isterinya itu terhadap TUHAN Allah di antara pohon-pohonan dalam taman.”
Setelah Adam berbuat dosa, apa yang menjadi sikapnya? Hal pertama yang dia lakukan adalah bersembunyi dan menghindari Allah. Adam sedang menipu dirinya sendiri. Allah itu maha tahu. Tidak seperti hakim di dunia, mereka harus mencari bukti dan saksi sebelum mereka dapat menjatuhkan penghakiman. Allah adalah Tuan bagi semesta alam. Dia tahu segala sesuatu, bahkan hal-hal yang tidak diketahui orang lain, tetapi Allah tahu.

Daud sangat memahami ini dan kita dapat melihat ini di mazmur-mazmurnya. Mari kita baca di Mzm 139. Bermula dari ayat 1-4,Daud berkata: “Untuk pemimpin biduan. Mazmur Daud. TUHAN, Engkau menyelidiki dan mengenal aku. Engkau mengetahui, kalau aku duduk atau berdiri, Engkau mengerti pikiranku dari jauh. Engkau memeriksa aku, kalau aku berjalan dan berbaring, segala jalanku Kau maklumi. Sebab sebelum lidahku mengeluarkan perkataan, sesungguhnya, semuanya telah Kau ketahui, ya TUHAN.”
Ayat 7-8, Daud berkata: “Ke mana aku dapat pergi menjauhi roh-Mu, ke mana aku dapat lari dari hadapan-Mu? Jika aku mendaki ke langit, Engkau di sana; jika aku menaruh tempat tidurku di dunia orang mati, di situpun Engkau.”

Sekiranya kita mengira bahwa dosa kita tidak akan diketahui orang, kita sedang menipu diri sendiri.

Pada kenyataannya, Allah telah mengetahui segala sesuatu yang terjadi di Taman Firdaus. Hanya saja, Allah tidak langsung terburu-buru menghampiri Adam dan merenggut leher Adam karena dosa yang telah Adam lakukan. Malah, sebaliknya, Allah dengan lembut mendekati Adam.
Kitab Kejadian menggambarkan: “Tetapi Yahweh Allah memanggil manusia itu dan berfirman kepadanya: “Di manakah engkau?”
Allah sedang memberi Adam suatu kesempatan untuk bertobat tetapi Adam tidak mau. Setelah itu, Allah memberinya satu lagi kesempatan dengan bertanya padanya: “…Apakah engkau makan dari buah pohon, yang Kularang engkau makan itu?”
Namun, bagaimana Adam menjawab pertanyaan itu? Ayat 12 berkata, “Manusia itu menjawab: “Perempuan yang Kautempatkan di sisiku, dialah yang memberi dari buah pohon itu kepadaku, maka kumakan.” 
Dengan cepat tanggungjawab dia alihkan pada Hawa, istri yang Allah berikan kepadanya, dengan kata lain, Adam sedang mengalihkan kesalahan kepada Allah. Dengan demikian, Adam kehilangan sepenuhnya kesempatan untuk dia bertobat, yang berakibat pada Allah menjatuhkan hukuman ke atas Adam dan Hawa.

Dari sini, kita dapat mempelajari satu lagi prinsip dari Allah. Yaitu, saat kita berbuat dosa, Allah mau memberi kita suatu kesempatan untuk bertobat. Jika kita bertobat, Dia akan mengampuni dan menerima kita sekali lagi. Namun, adalah batas waktunya. Saat Allah telah memberi kita waktu dan kesempatan yang cukup untuk bertobat, namun kita tidak bertobat, Allah tidak akan memberi kesempatan lagi kalau waktunya sudah lewat. Yang terjadi selanjutnya adalah penghakiman Allah. Allah mengutus Yesus Kristus datang pertama kali ke dalam dunia untuk memberikan kita kesempatan untuk bertobat. Itulah alasan mengapa Yesus berkata, “Aku datang bukan untuk menghakimi tetapi untuk menyelamatkan”.
Kita sekarang sedang berada di dalam zaman kasih karunia, zaman anugerah. Namun, saat Allah mengutus Yesus datang buat kedua kalinya, akan ada penghakiman. Pada waktu itu, tidak lagi ada kesempatan untuk bertobat. Jangan berpikir bahwa Allah itu murah hati dan Dia pasti akan memberi kita kesempatan. Tidak ada lagi, karena waktunya sudah habis. Dengan demikian, saat masih ada hari ini, janganlah menyianyiakan waktu maupun kesempatan, dan janganlah meremehkan kemurahan Allah dan datanglah ke hadapanNya untuk bertobat.

Sekarang kita memahami mengapa penghakiman Adam atas dosanya begitu berat. Adam hanya memakan satu buah, mengapa dia menerima penghakiman dan hukuman yang sedemikian berat? Mengapa Allah begitu keras? Pada kenyataannya, masalah Adam bukanlah tentang persoalan melakukan dosa, tetapi yang lebih penting adalah, sikapnya setelah berbuat dosa. Setelah Adam berbuat dosa, dia tidak berani mengakuinya dan dia menyembunyikan diri dari Allah. Maunya dia tetap bersembunyi saja. Karena itu di Ayub 31.33, Ayub menggambarkan Adam sebagai orang yang menyembunyikan kesalahan dalam hatinya.
Setelah Adam berbuat dosa, dia tidak berani mengakuinya dan menghindari Allah dengan harapan dia dapat sembunyi dari Allah. Karena itu, Ayub menggambarkan Adam sebagai orang yang menutupi dosanya dan menyimpannya di dalam hati. Sekalipun Allah memberi Adam kesempatan untuk bertobat, dia masih tidak mau dengan sendirinya datang kepada Allah dan bertobat. Itulah alasan mengapa dosanya mendatangkan akibat yang begitu berat.
Pada kenyataan, sikap Adam terhadap dosa sangatlah bermasalah di sepanjang peristiwa itu.

Mari kita kembali ke Kejadian 2. Terakhir kita berkata bahwa bukanlah Adam yang pertama berbuat dosa, tetapai Hawa yang memulainya. Saat Adam mendengarkan Hawa, dia jatuh ke dalam dosa. Saya harap kita tidak akan sedemikian dangkal untuk berkata bahwa kesalahan Adam adalah dia mendengarkan istrinya. Karena itu, para suami jangan pernah mau mendengarkan istrinya. Perhatikan bahwa Adam berbuat dosa setelah dia mendengarkan istrinya, dan kuncinya terletak di sini. Hawa berbuat dosa, dan Adam, sebagai suaminya, bukan saja gagal untuk memimpin istrinya pada pertobatan tetapi, juga mendengarkan istrinya dan turut jatuh ke dalam dosa. Kita tidak tahu apa sebenarnya yang dikatakan oleh Hawa kepada Adam karena tidak dicatat bagi kita. Namun, dari akibatnya, kita tahu bahwa Hawa membujuk Adam dan Adam mendukung perbuatan dosa Hawa, dengan demikian dia berpendirian sama dengan istrinya. Ini menunjukkan pada kita sikap Adam terhadap dosa itu telah salah sejak dari awalnya. Tentu saja, kesalahan lain terjadi saat peristiwa ini berlangsung.1 Ko. 15.48 berkata, “Makhluk-makhluk alamiah sama dengan dia yang berasal dari debu tanah dan makhluk-makhluk sorgawi berasal darisorga.”
Menurut konteksnya, “yang alamiah” menunjuk pada Adam. Perikop ini memberitahu kita bahwa Adam sebenarnya adalah perwakilan dari semua yang berasal dari daging. Itu berarti, kepribadian dan kelemahanya juga menjadi bagian kita. Karena itu, dia berbuat dosa, kita semua juga akan berbuat dosa.

Contohnya, saat orang yang kita kasihi berbuat dosa, atau saat orangtua, anak-anak atau teman baik kita berbuat dosa atau bahkan saudara seiman kita berbuat dosa, bagaimana kita menanganinya? Mereka akan meminta pada kita dengan kasih manusia dan berkata, “Jika kamu mengasihi aku, kamu akan mendukung aku dan berdiri bersama-sama dengan aku!”
Itulah yang dilakukan oleh Adam dan besar kemungkinan, kita juga akan berbuat demikian. Akan tetapi, kasih yang sejati adalah kita akan membujuk mereka untuk bertobat di hadapan Allah karena itulah satu-satunya jalan keluar. Kita tidak akan mendukung mereka. Namun, akibatnya adalah, mereka akan merasa kita kejam dan tidak mengasihi mereka dan kita akan selama-lamanya kehilangan mereka. Harga yang sangat tinggi, apakah kita mau membayarnya? Atau, sebagai contoh, saat kita berbuat dosa atau kesalahan, bagaimana kita akan bereaksi? Mungkin, reaksi pertama kita adalah tidak mengizinkan orang lain untuk mengetahuinya, dan kita akan berpura-pura bahwa tidak ada apa-apa yang terjadi untuk menyembunyikan kenyataan. Kita tidak mau mengakui kesalahan kita dan meminta maaf. Terutamanya kalau kita mempunyai status yang lebih tinggi.
Contohnya, orang tua yang tidak mau meminta maaf kepada anak-anak, guru dengan anak murid atau majikan dengan pegawai. Sekalipun, kita dengan jelas tahu telah berbuat salah, tetapi tetap saja tidak mau mengakui atau meminta maaf.
Mengapa kita tidak mau mengakui dosa dan kesalahan kita? Satu alasan adalah mungkin kita khawatir bagaimana orang akan memandang kita; sangatlah memalukan dan kita bahkan khawatir bagaimana hal ini akan mempengaruhi kredibilitas dan reputasi kita.
Sebagai orang tua, jika kita mengakui kesalahan dan meminta maaf, kita khawatir anak-anak kita tidak lagi akan menghormati kita. Sebagai guru, kalau kita meminta maaf pada para murid, bukanlah kita akan kehilangan kehormatan dan wibawa kita? Sebagai atasan, jika kita meminta maaf pada pegawai, bukankah kita akan kehilangan otoritas kita? Kita sangat peduli tentang diri kita dan mau melindungi diri kita. Karena itu, kita rela mengorbankan kebenaran.
Mengapa kita tidak mau mengakui dosa kita? Alasan yang lain adalah kita takut untuk menanggung akibat dari dosa kita.

Di sesi yang lalu, kita menyebut bahwa pasti akan ada akibat dari dosa dan kesalahan kita, dan kita harus menanggungnya. Mungkin, sebagai orang tua, anak-anak tidak akan lagi menghormati Anda jika Anda berbuat salah. Sebagai guru, Anda mungkin akan kehilangan wibawa dan hormat dari para murid. Sebagai atasan, Anda mungkin akan kehilangan otoritas ke atas bawahan Anda. Bagaimana pun, yang lebih penting adalah, setelah berbuat salah, apakah kita punya keberanian untuk menanggung akibatnya? Jika  ya, maka kita merupakan orang yang mengasihi kebenaran.
Daud adalah orang yang demikian, dia tidak menghindar dari menanggung akibat dari dosanya. Jika Anda melihat kisah hidup Daud, Anda akan melihat bahwa dosanya membuatnya harus membayar harga yang besar. Dia diburu dan harus melarikan diri menyelamatkan nyawanya dari anaknya Absalom. Daud nyaris kehilangan kerajaan dan juga nyawanya.  Bahkan sampai ke hari ini, setiap orang yang membaca Alkitab tahu bahwa dia telah berbuat zinah dan membunuh. Namun, Daud tidak melarikan diri dan menjauh dari Allah. Dia mau pergi di hadapan Allah untuk bertobat, mencari Allah dan terus mencari dan menyembah-Nya. Karena itulah, Allah menyebutnya sebagai orang yang berkenan di hati-Nya dan memberinya berkat yang luar biasa dan bahkan memberikan Daud bagian di dalam karya keselamatan Allah, yaitu dengan mengizinkan Yesus untuk lahir dari garis keturunan Daud.

Bukankah kita juga seperti Adam dan pernah melakukan apa yang dilakukan Adam? Kita tidak mau bertanggungjawab atas kesalahan dan dosa kita. Marilah kita menyelidiki hati kita, bukankah seringkali kita hanya melihat pada kesalahan orang lain dan bagaimana orang lain telah gagal.

Hal yang paling sulit di dunia ini adalah relasi antara manusia. Apakah antara atasan dan bawahan, antara kolega, sahabat, suami-istri, orang tua-anak, atau bahkan antara saudara seiman, pasti akan ada pertentangan dan konflik. Namun, di mata kita, yang bermasalah selalunya adalah orang lain, dan kita senang mengalihkan tanggungjawab kepada orang lain.

Saat Adam menyalahkan Hawa, hubungan mereka sudah berubah, tidak akan sama lagi. Tidak lagi seperti sebelumnya, tidak lagi tulang dari tulangku dan daging dari dagingku. Akibat dari mengalihkan tanggungjawab atau menyalahkan orang lain adalah hal itu akan mengakibatkan pada retaknya hubungan.

Kesimpulan
Kita telah melihat bukan saja Adam berbuat dosa tetapi juga sikapnya setelah dia berbuat dosa. Dia tidak mau mengakui dosanya dan menyembunyikan dirinya. Saat Allah memberinya kesempatan untuk bertobat, dia tidak menghargainya dan dia kehilangan kesempatan itu.
Pada akhirnya, saat Allah bertanya langsung kepadanya, dia mengalihkan tanggungjawab kepada Hawa dan bahkan menyalahkan Allah karena Allah-lah yang menciptakan Hawa untuknya. Justru sikapnya inilah yang membuat Adam tidak berkenan pada Allah, dan karena itu, akibat dan penghakiman ke atasnya sangatlah berat.

Adam, kita dapat belajar beberapa prinsip:
1.Allah bermurah hati dan ingin membantu kita dan memberi kita kesempatan untuk bertobat. Karena itu, saat kita berbuat dosa, bukan saja, kita jangan menghindari Allah, lebih lebih lagi, kita harus pergi kepada Allah. Karena hanya Allah yang dapat mengampuni dosa kita dan menyucikan kita dari dosa kita. Dengan kata lain, hanya Allah yang dapat menyelesaikan permasalahan dosa dan melepaskan kita agar kita tidak mati dalam perlanggaran dan dosa, agar kita dapat terus berada di bawah pemerintahan-Nya. Pada waktu yang bersamaan, kita dapat juga mendorong mereka yang berbuat dosa untuk pergi ke hadapan Allah untuk membuat pengakuan dan bertobat.

2.Kemurahan dan kesabaran Allah ada batasnya.
Setelah Allah memberi kita waktu dan kesempatan yang cukup untuk bertobat, jika kita tidak melakukannya, Allah tidak akan memberi kita kesempatan lagi. Setelah waktunya habis, yang mengikutinya adalah penghakiman Allah.
Kedatangan Yesus yang pertama adalah untuk memberikan kepada kita suatu kesempatan untuk bertobat. Kedatangannya yang kedua adalah untuk menghakimi. Kita sekarang sedang hidup di dalam zaman kasih karunia. Karena itu, saat kita masih punya hari ini, janganlah kita membuang waktu dan kesempatan atau meremehkan kemurahan Allah, tetapi marilah kita pergi kepada Allah dalam pertobatan.

3.Jika kita telah berbuat dosa, sekalipun kita telah bertobat, kita tetap saja harus menanggung akibat dari dosa yang telah kita perbuat, dan itulah kengerian dosa.
Bagaimana pun, kita harus mempunyai keberanian untuk menghadapi konsekuen dari dosa kita sambil kita mengandalkan Allah dan bertobat di hadapan-Nya. Orang yang tidak mau bertobat akan berhadapan dengan konsekuen yang lebih berat dan harga yang mereka harus bayar akan jauh lebih tinggi.

Kita sekarang telah selesai dengan studi tentang karakter Adam. Pada kenyataannya, pembahasan kita belum selesai karena kita harus berbicara tentang Adam saat kita membahas tentang Hawa. Karena itu, karakter selanjutnya yang akan kita pelajari adalah Hawa. Melalui Hawa, kita akan mendapatkan suatu gambaran yang lebih lengkap dalam memahami Adam dan Hawa.

Study Karakter - Adam 1

Apa yang Membuat Adam jatuh dalam Dosa?

Hari ini kita akan melihat pada manusia pertama yang diciptakan Allah, yang juga adalah nenek moyang kita yang pertama yaitu Adam. Kisahnya diceritakan di dalam Kejadian pasal 2-5.
Allah Yahweh menggunakan lima hari untuk menciptakan langit dan bumi. Dan setelah semuanya selesai, pada hari yang ke-6, Allah menciptakan Adam.
Di Kejadian 2:7, dikatakan, Ketika itulah TUHAN Allah membentuk manusia itu dari debu tanah dan menghembuskan nafas hidup ke dalam hidungnya; demikianlah manusia itu menjadi makhluk yang hidup.

Arti ‘Adam’ dalam bahasa Ibrani adalah bumi (merah)/berasal dari bumi (lahir dari bumi). Karena Allah menggunakan debu dari tanah untuk menciptakannya, dia dinamakan ‘Adam’.
Allah kemudian menciptakan sebuah taman di Eden yang terletak di sebelah timur, dan disanalah Dia menempatkan Adam, manusia yang diciptakan-Nya, untuk mengusahakan dan memelihara taman tersebut. Taman itu tumbuh subur dengan sumber daya alam yang berkelimpahan, pepohonan, rerumputan dan buah-buahan yang menjadi makanan bagi Adam. Kemudian Allah Yahweh menemukan bahwa tidaklah baik kalau Adam seorang diri saja, dan sebaiknya memiliki pasangan untuk menolongnya. 
Jadi pada suatu hari, Allah membuat Adam tidur nyenyak, dan mengambil salah satu tulang rusuk daripadanya untuk menciptakan seorang perempuan. Ketika dia bangun, Adam lalu berkata, “Inilah tulang dari tulangku dan daging dari dagingku; dia akan dinamakan perempuan.” Adam menamakan perempuan itu, Hawa. Allah menempatkan mereka di dalam taman Eden. Ada begitu banyak jenis tanaman dan pepohonan di dalamnya, beserta dengan beragam jenis buah-buahan yang manis sebagai makanan mereka. Udaranya sangatlah segar, pemandangannya sangat menyejukkan mata; di sana seseorang dapat mengagumi pemandangan sekaligus mencicipi buah-buahannya. Tidak ada hotel berbintang lima, villa dipinggir kota ataupun perkampungan untuk berlibur manapun yang dapat dibandingkan dengan taman Eden. Yang lebih penting, Yahweh seringkali datang ke taman Eden untuk berkunjung, berjalan-jalan dan berbincang-bincang dengan mereka. Mereka dapat secara langsung berbicara dengan Allah muka dengan muka; sesuatu yang tidak pernah dapat kita bayangkan di zaman ini.

Namun ada 2 pohon istimewa di dalam taman Eden, pohon kehidupan dan pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat. Allah Yahweh memberitahukan kepada mereka: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.”
Pada akhirnya, terjadilah sebuah tragedi yang sangat terkenal. Oleh bujukan si ular, Hawa mengambil buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat dan memakannya. Dia lalu memberikannya juga kepada suaminya, dan Adam memakannya juga. Sejak saat itu, mereka telah dikutuk: kutukan tersebut termasuk kematian, sakit pada saat melahirkan, kesulitan-kesulitan dalam hidup dan sebagainya. Mereka telah diusir keluar dari taman Eden dan diusir dari hadapan Allah. Mereka tidak dapat melihat wajah Allah lagi mulai dari saat itu. Namun setelah itu, Adam masih menjalani masa hidup yang panjang dan damai, membesarkan anak-anaknya, dan hidup sampai usia 930.

Semua kisah-kisah ini dicatat di dalam Kejadian. Meskipun bila Anda bukan seorang Kristen, Anda pasti sudah sangat mengenal akan kisah Adam dan Hawa. Tiap kali kita menceritakan kisah ini, kita diingatkan tentang taman Eden dan dosa Adam.

Jadi pelajaran rohani apa yang dapat kita pelajari dari Adam?
Pertama-tama, mari kita pikirkan akan hal ini, Adam jelas-jelas mengetahui kalau Allah telah mengatakan bahwa dia akan mati jika ia makan buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat, tapi mengapa pada akhirnya dia memakannya?
Mari kita lihat Kejadian 2:16, Lalu TUHAN Allah memberi perintah ini kepada manusia: “Semua pohon dalam taman ini boleh kau makan buahnya dengan bebas, tetapi pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat itu, janganlah kau makan buahnya, sebab pada hari engkau memakannya, pastilah engkau mati.” Inilah yang Allah katakan kepada Adam, dan di ayat berikutnya (ay.18), Allah menciptakan seorang pasangan untuknya.
Jadi, sangat jelas di sini yaitu ketika Adam masih sendiri, dia telah mengetahui kalau buah dari pohon pengetahuan tentang yang baik dan yang jahat tidak boleh dimakan. Dan selama kurun waktu itu, dia tidak memakannya.

Jadi kapan Adam mulai berdosa?
Di dalam Kejadian pasal 3, si ular datang untuk menggoda Hawa. Hawa termakan godaan dan memakan buah tersebut. Tapi tidak hanya itu, Hawa lalu memberikan buah itu kepada Adam dan Adam memakannya juga. Jadi dari sini kita dapat melihat bahwa Hawa berdosa terlebih dahulu, dan lalu membuat Adam jatuh ke dalam dosa juga. Inilah sebabnya mengapa Paulus di 1 Timotius 2:13-14 berkata, Karena Adam yang pertama dijadikan, kemudian barulah Hawa. Lagipula bukan Adam yang tergoda, melainkan perempuan itulah yang tergoda dan jatuh ke dalam dosa. Dengan demikian boleh dikatakan kalau Adam berdosa disebabkan oleh Hawa, dia mendengarkan perkataan Hawa. Allah lalu menegur Adam untuk hal itu, yang tertulis di Kejadian 3:17: Lalu firman-Nya kepada manusia itu: “Karena engkau mendengarkan perkataan isterimu dan memakan dari buah pohon, yang telah Kuperintahkankepadamu: Jangan makan dari padanya…”

Diperhadapkan pada sebuah pilihan antara firman Allah dan perkataan istrinya, Adam memilih untuk mendengarkan perkataan istrinya. Itulah salah satu dari beberapa alasan mengapa dia berdosa.

Seringkali kita tidak dapat mengerti mengapa Adam bertindak demikian bodoh, bagaimana dia dapat membuat kesalahan untuk sesuatu hal yang terlihat begitu jelas? Namun sebetulnya hal ini tidaklah sesederhana itu.
Bayangkan ada sepasang suami istri. Katakanlah hubungan mereka tidaklah begitu baik. Namun pada awalnya, ketika Anda memutuskan untuk menikahi seseorang  dan menjadikannya istri atau suami Anda, setidaknya pada saat itu, Anda pasti akan berpikir kalau pasangan Anda adalah orang yang paling Anda kasihi di dunia ini, dan Anda mau untuk berada bersamanya selama-lamanya. Tidak ada yang salah dengan mencintai seseorang, bahkan, hal ini memang seharusnya terjadi.
Tapi, sampai batas mana kita harus mencintai satu sama lain? Sebagai seorang Kristen dan anak-anak Allah, Allah memerintahkan kita untuk mengasihi Allah di atas segalanya.
Namun, berapa banyak dari kita yang mampu mengasihi Allah lebih daripada kita mencintai suami atau istri kita? Di dalam gereja kita sering melihat akan hal ini, di antara sepasang suami istri, kehidupan rohani yang satu lebih kuat dibandingkan pasangannya; dan seiring berjalannya waktu, tidak hanya yang lebih kuat gagal untuk memimpin yang lebih lemah untuk bertumbuh – tapi malah sebaliknya, yang lebih lemah seringkali menghambat yang lebih kuat. Pada akhirnya, kehidupan rohani keduanya mundur. Inilah contoh dari Adam yang akan kita alami ketika kita memilih untuk mendengarkan pada suara kekasih kita dan bukannya suara Allah. Beberapa dari Anda mungkin berkata, saya tidak memiliki masalah itu karena saya masih single atau belum memiliki pasangan. Namun bagaimanapun situasi Anda saat ini, jika Anda mencintai seseorang lebih dari Allah, maka kita akan menjadi seperti Adam. Orang itu bisa jadi orang tua kita, anak-anak kita, atau teman kita dan orang-orang lainnya. Mereka akan membuat kita meninggalkan perintah Allah.

Semasa zaman Tiga Kerajaan di dalam sejarah Tiongkok, tertulis sebuah cerita sebagai berikut: Kedua Cao Cao dan Liu Bei ingin menguasai dunia, dan pada awalnya, Cao Cao selalu di dalam posisi yang lebih menguntungkan. Maka kemudian Liu Bei mengunjungi banyak orang-orang berbakat untuk meminta petunjuk dan nasihat. Akhirnya ia mengundang seorang penasihat yang sangat terkenal yang bernama Xu Shu. Xu Shu lalu membantu Liu Bei dalam banyak pertempuran, membuatnya memenangkan semua pertempuran tersebut, dan menawan banyak kota. Cao Cao lalu menjadi sangat kuatir akan situasi pada saat itu. Dia kuatir apabila hal ini berlanjut terus-menerus, maka ia akan kehilangan negeri ini dan kalah pada Liu Bei. Lalu ia menjalankan sebuah rencana licik, Cao Cao mengetahui bahwa Xu Shu adalah seseorang yang terkenal sangat berbakti pada orang tua, dan ibunya yang sudah lanjut usia menetap di sebuah kota yang berada di bawah kekuasaan Cao Cao. Cao Cao menulis surat pada Xu Shu, meniru gaya perkataan dan tulisan dari ibu Xu Shu, dan surat itu berkata, “Ibu sakit keras, mohon engkau segera pulang.” 
Xu Shu tidak pernah mengenal rasa takut dan melakukan semua hal dengan rencana yang baik, tetapi ibunya adalah satu-satunya anggota keluarga terdekatnya yang sangat dikasihinya. Maka setelah ia menerima surat tersebut, Xu Shu menjadi sangat takut dan tidak bisa berhenti menangis. Ia memutuskan untuk segera pulang. Liu Bei berusaha untuk membuatnya tidak pergi dan berkata kemungkinan surat tersebut adalah sebuah tipu muslihat; ibumu tinggal dikota yang berada di bawah kekuasaan Cao Cao. Tetapi Xu Shu sudah tidak dapat berpikir jernih and memutuskan untuk pergi dan kembali ke rumah. Ia lalu bergegas pulang dan sesaat ia sampai di rumahnya, ia lalu berteriak dengan keras: “Ibu, apa yang terjadi dengan engkau?”
Pada saat itu ibunya sedang bekerja. Ia begitu terkejut melihat Xu Shu pulang, dan ia kembali bertanya: “Mengapa engkau ada disini? Bukankah seharusnya engkau sedang membantu Liu Bei?”
Xu Shu berkata, “Saya menerima surat yang mengatakan bahwa Ibu sakit”
Ibunya berkata, “Tidak, kamu pasti sudah diperdaya oleh Cao Cao.”
Kemudian Xu Shu menyadari apa yang telah terjadi saat itu, tapi semuanya sudah terlambat, para pengikut Cao Cao sudah menunggunya di depan pintu.
Jangan lupa bahwa Xu Shu adalah seorang penasihat, ia membantu Liu Bei untuk merencanakan dan memenangkan setiap pertempuran, tidak ada tipu muslihat peperangan serumit apapun yang dapat mengalahkan dia, tapi satu tipu muslihat kecil dari Cao Cao berhasil memperdayanya. Mengapa hal itu bisa terjadi? Hal itu terjadi karena Xu Shu sangat mengasihi ibunya; dan hasil dari mengasihi seseorang dengan berlebihan adalah mata orang tersebut dibutakan terhadap bahaya dan menjadi tidak sadar lalu terus masuk pada perangkap yang sedemikian jelas.
Ibu Xu Shu yang melihat bahwa anaknya masuk dalam ke dalam perangkap karena dirinya, lalu mengakhiri hidupnya dengan cara menggantung diri agar ia tidak lagi menjadi hambatan dan titik lemah anaknya. Oleh karena perbuatannya ini, ia dikagumi sebagai seorang ibu yang luar biasa, bahkan jauh melebihi kebanyakan umat Kristen (dalam hal mengorbankan diri).
Kita dapat melihat bahwa kasih Xu Shu terhadap ibunya yang sedemikian besar (dengan tidak menghiraukan semua hal lainnya) pada akhirnya menghancurkan karirnya dalam menolong Liu Bei mempersatukan negerinya, yang juga mengakibatkan ia kehilangan ibunya. Pada akhirnya ia hanya dapat menyesali keputusannya yang salah hingga akhir hidupnya. Tentunya peristiwa Xu Shu terjadi setelah peristiwa Adam. Walau dengan contoh yang terjadi pada Adam, manusia yang ada sesudahnya masih melakukan kesalahan yang sama berulang kali.
Mungkin dari kisah dalam sejarah Tiongkok ini kita dapat lebih mengerti mengapa Adam berdosa.

Di dalam taman Eden, Adam memiliki seorang musuh, yang juga adalah musuh kita di masa sekarang, yaitu si ular, iblis. Perintah Allah kepada Adam tentang jangan memakan buah dari pohon pengetahuan sesungguhnya adalah suatu bentuk perlindungan yang dimaksudkan untuk melindungi Adam dari dosa. Tapi Iblis juga mencoba berbagai macam cara untuk mengalihkan kita dari perlindungan Allah. Dengan Adam, iblis tidak membujuknya untuk memakan buah dari pohon pengetahuan, karena Adam tahu dengan jelas akan perintah Allah, sehingga ia mematuhi Allah dan tidak memakan buah tersebut. Maka kemudian si iblis menggunakan sebuah senjata yang paling efektif untuk mengelabui Adam, yaitu Hawa, orang yang paling dikasihinya. Iblis membiarkan Hawa untuk membujuk Adam untuk memakan buah tersebut, dan pada akhirnya Adam dengan rela menyerah pada bujukannya.
Oleh karena itu senjata paling efektif yang digunakan oleh musuh kita dalam menyerang kita adalah melalui orang-orang yang paling kita kasihi. Apabila kita mengasihi seseorang lebih dari segalanya, orang ini bisa menjadi halangan/batu sandungan bagi kita.
Tapi apakah kita memiliki kebijaksanaan rohani untuk mengasihi Allah lebih dari segalanya? Kebijaksanaan ini juga merupakan senjata paling efektif untuk mengalahkan dosa.
Jadi pelajaran pertama yang kita dapatkan dari nenek moyang kita Adam adalah kita perlu mengasihi Allah lebih dari segalanya (dan siapapun).

Selanjutnya kita akan mendiskusikan mengapa Adam dengan sengaja berbuat dosa?
Kita tahu bahwa anak-anak memiliki natur untuk memberontak, contohnya pada saat orang tuanya melarang mereka bermain dengan api agar mereka tidak terbakar, malah mereka akan dengan sengaja melakukannya. Pada beberapa kasus, hal ini berakhir dengan kematian tragis bagi anak yang bermain api itu. Contoh lain adalah narkoba; beberapa orang dengan rasa ingin tahunya untuk mencoba, mereka lalu berkata pada dirinya sendiri, “Semua orang berkata bahwa sangat mudah menjadi ketagihan, tapi apakah seserius itu? Saya akan mencobanya sekali ini saja Hanya kali ini saja. Seharusnya tidak masalah. Saya bisa mengontrol diri saya sendiri.” Tapi pada akhirnya mereka tidak dapat berhenti.
Terkadang, disaat kita melakukan sesuatu yang salah, kita berpikir bahwa ini adalah suatu kebetulan dan mungkin saja hal ini tidak berakhir buruk. Atau meskipun kita tahu dampaknya sangat serius, kita masih berpikir “Tidak masalah, saya bisa menerima kesalahan yang telah saya lakukan. Hal terburuk yang dapat terjadi adalah saya akan kehilangan hidup saya sendiri.”
Pada masa itu, pasti Adam tidak membayangkan bahwa dosanya tidak hanya berdampak pada dirinya sendiri, tapi juga mempunyai dampak yang lebih jauh kepada semua umat manusia. Oleh karena itu Paulus berkata di Roma 5:12 Sebab itu, sama seperti dosa telah masuk ke dalam dunia oleh satu orang, dan oleh dosa itu juga maut, demikianlah maut itu telah menjalar kepada semua orang, karena semua orang telah berbuat dosa.
Dalam ayat ini, “satu manusia” menggambarkan Adam. Dampak dari dosanya adalah ia harus meninggalkan taman Eden, menjauh dari pohon kehidupan, dan tanpa pohon kehidupan ia harus menghadapi kematian. Dan karena ia diusir dari taman Eden, seluruh keturunannya tidak memiliki bagian dalam taman Eden & pohon kehidupan. Kemudian kita beranjak semakin jauh dari Allah dengan melakukan berbagai macam dosa, bahkan sampai pada satu titik di mana kebanyakan orang pada masa kini, tidak mengetahui nama Allah.
Tetapi puji kepada Allah! Untuk menyelamatkan kita, Ia mengutus Yesus ke bumi dan mati di kayu salib untuk dosa-dosa kita. Yesus menebus dosa-dosa kita dengan hidupnya.

Bila dosa tidak sedemikian serius, mengapa Allah harus membayarnya dengan harga yang demikian tinggi? Mungkin sampai saat ini, kita masih belum dapat memahami arti sesungguhnya dari keselamatan. Kita berdoa agar Allah mengampuni kita! Jadi, kegagalan Adam adalah dia tidak melihat dosa sebagai sesuatu hal yang sangat serius. Dia tidak menyadari konsekuensi dari dosa adalah kematian. Adam tidak dapat menanggung dosanya seorang diri, karena dia seluruh keturunan setelahnya terkena dampaknya.

Di dalam Alkitab, Allah memperingatkan kita tentang dosa sebagai sesuatu yang tidak boleh kita lakukan. Namun apakah kita menyadari pentingnya perkataan Allah tersebut? Apakah kita menjauh dari dosa? Atau malah kita berkata: “Apakah dosa seserius itu? Itu bukanlah hal yang begitu serius.

”Allah berkata bahwa kita tidak boleh melakukan perzinahan, tapi lihatlah sekeliling kita, kita melihat orang-orang berselingkuh, mengeluarkan uang untuk memiliki seorang simpanan. Sepasang wanita dan pria hidup bersama sebelum pernikahan menjadi hal yang sangat biasa. Beberapa survei menuliskan bahwa sebagian murid-murid SMU berpikir bahwa hal itu bukanlah hal yang aneh. Dan tentang pernikahan homoseksual, banyak orang meminta untuk dilegalkan. Mereka berpikir bahwa tidak ada yang salah dengan hal itu kalau dua orang saling mencintai.
Di mata Allah, semua tindakan-tindakan itu adalah dosa. Namun, di zaman ini, kita melihat hal-hal itu sebagai hal yang tidak aneh dan masuk akal. Kita melihatnya sebagai sesuatu yang alami, hal itu dilihat sebagai hak asasi manusia dan kita harus menghormatinya. Dosa-dosa ini juga telah masuk kedalam gereja. Di dalam gereja, ada banyak orang melakukan perzinahan, tinggal bersama sebelum menikah, atau berada di dalam sebuah hubungan homoseksual. Mereka semua duduk bersama untuk memuji Allah. Dapatkan Anda bayangkan apakah Allah memberkati gereja yang demikian? Beberapa dari Anda mungkin akan berkata, “Ya, saya telah berdosa, lalu? Saya masih menikmati hidup saya. Saya kenal beberapa orang, mereka melakukan bahkan lebih banyak dosa daripada saya, namun mereka tetap memiliki sebuah kehidupan yang baik, saya bahkan belum pernah melihat adanya hukuman yang menimpa mereka.”
Inilah kesalahan yang Adam lakukan, dia tidak melihat konsekuensi dari dosa dan dampaknya yang amat besar. Upah dari dosa ialah maut!
Sebagian orang mungkin berkata, “Lalu? Tiap orang akan mati pada akhirnya; hal yang terpenting adalah bila kita menikmati hidup kita hari ini!” Sebagian orang mungkin takut akan kematian, tapi sebagian lagi tidak.

Saya pernah membaca artikel dari sebuah surat kabar yang menuliskan ada orang-orang yang melakukan tindakan kriminal yang sangat serius dan telah dihukum mati. Namun ketika mereka diperhadapkan pada akhir hidup mereka, mereka sangatlah tenang dan tidak terlihat takut. Ketika reporter mewawancarai mereka, salah satu dari mereka berkata: “Saya telah tidur dengan lebih dari seratus wanita, dan membunuh lebih dari seratus orang, saya tidak menyianyiakan hidup saya meskipun saya harus mati saat ini.”
Betapa hati seseorang dapat menjadi sedemikian kerasnya!

Ya, Anda mungkin tidak takut terhadap kematian, tapi hal itu adalah karena Anda hanya tahu tentang kematian jasmani. Anda berpikir setelah Anda mati, semuanya akan lenyap. Tapi Alkitab memberitahukan kita, manusia terbuat dari daging dan roh. Setelah daging/tubuh kita meninggal, roh akan tetap ada.
Jadi Yesus di Matius 10:28 berkata kepada kita, Dan janganlah kamu takut kepada mereka yang dapat membunuh tubuh, tetapi yang tidak berkuasa membunuh jiwa; takutlah terutama kepada Dia yang berkuasa membinasakan baik jiwa maupun tubuh di dalam neraka.

Pada kenyataannya, ada dua jenis kematian, yang pertama adalah kematian jasmani, dan satunya lagi adalah kematian rohani.
Apakah Anda berpikir bahwa konsekuensi dari dosa adalah kematian jasmani? Jika demikian, mengapa Adam dapat hidup sampai usia 930 tahun meskipun dia telah berdosa? 930 tahun, hampir 1 milenium. Kita tidak akan pernah dapat membayangkan hal demikian terjadi hari ini!

Ingat Qin Shihuang (kaisar pertama dari dinasti Qin) menggunakan kekayaannya dan sumber daya manusia untuk mencari kekekalan, tapi berakhir sia-sia. Dan banyak raja-raja lain dan para jenderal di dalam sejarah yang juga ingin untuk hidup beberapa dekade lebih lama, tapi semua berakhir dengan kematian dengan penyesalan yang dalam. Dan Adam hidup selama 930 tahun meskipun telah memakan buah yang seharusnya membawa kematian baginya! Bukankah hal ini adalah suatu lelucon?! Jika seseorang memberitahukan kepada Anda bahwa Anda telah berdosa, dan Anda akan meninggal pada akhirnya, namun Anda dapat hidup selama 930 tahun. Apa yang akan Anda pikirkan kemudian? Apakah hal ini akan membawa Anda menjauh dari dosa? Atau mungkin kita akan berakhir seperti para kriminal yang diceritakan diatas yang berkata, “Tidak apa-apa, saya tidak menyia-yiakan hidup saya.”
Kenyataannya, upah dosa adalah maut; di sini hal ini merujuk pada kematian rohani. Konsekuensi yang menimpa Adam adalah bahwa dia harus menghadapi kematian rohani. Hal yang sama juga akan terjadi pada kita, sekali kita berdosa, maka kita harus menghadapi kematian rohani.  Betapa mengerikannya kematian itu! Kematian rohani itu jauh tidak mungkin dapat kita bayangkan. Tapi jika kita sungguh mengerti akan hal ini, kita akan memiliki rasa takut yang sesungguhnya terhadap konsekuensi serius yang akan dibawa oleh dosa, dan kita juga akan lebih menghargai akan harga yang telah dibayar oleh Yesus untuk keselamatan kita. Seringkali, kita tidak mengerti mengapa Yesus harus mati di kayu salib. Alasan untuk hal ini adalah karena kita tidak mengerti sepenuhnya tentang konsekuensi serius yang datang dari dosa, yang juga akan membawa kita pada kematian rohani dan hanya Yesus yang dapat menyelamatkan kita melalui pengorbanannya.
Sebagian orang mungkin berkata, “Saya tidak akan melakukan hal-hal yang demikian buruk; saya tidak pernah melakukan dosa yang besar.” Hal itu bagus dan baik, tapi bagaimana dengan dosa lainnya? Yesus mengatakan apa yang menodai seorang manusia berasal dari dalam, di dalam Markus 7:19-23, dia mengatakan hal itu termasuk niat jahat, percabulan, pencurian, pembunuhan, perzinahan, ketamakan, kejahatan, tipu muslihat, tidak bermoral, iri hati, fitnah, kesombongan, kebodohan. Pernahkah kita melakukan salah satu dari hal di atas?

Ada sebuah pepatah Tionghoa yang berkata: ”Jangan pernah melakukan kesalahan-kesalahan yang besar, tapi lakukanlah hanya kesalahan-kesalahan yang kecil.”
Hal ini bermakna, saya tidak akan menyentuh kesalahan-kesalahan besar yang melanggar hukum atau berujung pada hukuman atau dosa-dosa tentang hidup dan mati (yang membuat kita kehilangan hidup kita); tapi kesalahan-kesalahan kecil yang tidak menyangkut tindakan kriminal serius atau tidak harus pergi ke pengadilan, meski aku melakukannya berulang kali, itu tidak masalah.

Saya pernah membaca sebuah kisah nyata di sebuah surat kabar. Ada sepasang suami istri yang sering berdebat satu sama lain tentang isu-isu kecil dalam keluarganya. Seiring waktu, argumen-argumen kecil yang mereka ucapkan semakin menyakiti perasaan masing-masing dari mereka. Akhirnya, hal itu sampai pada suatu tahap dimana mereka merasa tidak dapat hidup bersama lagi. Lalu apa yang mereka lakukan? Sudah tentu, akhirnya mereka pun bercerai. Sepasang suami istri ini masih sangat muda, segera setelah mereka bercerai, mereka menikah lagi dengan orang lain. Tapi mereka memiliki seorang anak yang masih sangat kecil, dan anak ini menjadi beban bagi mereka, lalu kemudian dengan mudahnya mereka menelantarkan anak mereka dan memberikan anak itu untuk dibesarkan oleh sanak saudara mereka. Anda pasti dapat membayangkan bagaimana kehidupan anak ini yang harus hidup di bawah atap rumah orang lain. Sewaktu dia berusia 7 atau 8 tahun, dia menemukan kalau batok lututnya seperti akan lepas, dan seringkali berada dalam keadaan kesakitan. Setelah melewati sebuah pemeriksaan di rumah sakit, lalu didiagnosa bahwa hal itu adalah osteocarcinoma (kanker tulang). Anak kecil itu terbaring di atas ranjang dan mengerang kesakitan, dengan berlinang air mata dia bercerita dengan sangat sedih di mana dia kehilangan kasih sayang orang tuanya selama bertahun-tahun. Ayahnya sangat terkejut dan tersadar setelah mendengar tentang hal yang menimpa anaknya; lalu kemudian kembali dari tempat yang jauh untuk menemani anaknya yang sangat kasihan itu. Tapi sangat disayangkan tidak lama setelah itu, anaknya meninggal dunia.
Perdebatan terjadi diantara pasangan-pasangan, apakah hal itu merupakan sebuah kesalahan besar atau hanyalah sebuah kesalahan kecil? Lalu bagaimana dengan perceraian? Apakah sepasang suami istri yang diceritakan di atas melakukan dosa-dosa yang serius? Siapa yang dapat kita salahkan untuk kematian anak itu? Meskipun hal ini terlihat seperti sebuah kesalahan kecil, kerusakan yang dibawa sangatlah serius. Hal itu menjadi hal hidup atau mati dan memberikan dampak pada seorang yang tidak bersalah.
Jadi pelajaran ke-2 yang dapat kita pelajari dari Adam adalah, jangan menganggap remeh akan dosa. Akibat serius yang disebabkan oleh dosa dapat jauh melebihi imajinasi kita, yaitu dapat berujung pada kematian rohani. Ketika Adam berdosa, dia mungkin tidak pernah berpikir kalau dosa tidak hanya memberikan dampak pada dirinya sendiri, tapi juga memberikan dampak yang sangat besar pada seluruh umat manusia.


Kesimpulan:

Kisah Adam ditulis di Kejadian 2-5. Dia merupakan manusia pertama yang diciptakan oleh Allah, yang juga adalah nenek moyang kita. Melalui dia, kita mewarisi hidup kita secara jasmani, namun juga melalui dia, dosa bertakhta di atas dunia.

Hari ini kita belajar 2 pelajaran rohani melalui kisah Adam.

Pertama, kita harus mengasihi Allah lebih dari apapun (dan siapapun). Adam mengasihi istrinya Hawa lebih daripada Allah, dan karena itu dia mendengar perkataan istrinya dan memakan buah yang tidak seharusnya dimakan olehnya.

Kedua, jangan pernah menganggap remeh akibat dari dosa. Hal itu tidak hanya membawa kematian rohani pada diri kita, namun dosa juga menyebar seperti penyakit, dan menyebarkan sakit pada orang lain juga. Dosa Adam tidak hanya membawa akibat padanya tapi juga memiliki dampak yang luar biasa pada seluruh umat manusia.

Kamis, 25 Juli 2013

Keselamatan dan Pertanggungjawaban Manusia.

(Bagian keenam dari studi sistematis tentang keselamatan)

oleh Pendeta Eric Chang

Di pesan yang lalu kita membahas tentang kasih karunia Allah - tentang makna kasih karunia. Kita melihat bahwa kasih karunia adalah Allah memberikan diri sepenuhnya kepada kita melalui Kristus. Seperti yang Paulus sampaikan di dalam Roma 8:32, Allah "yang tidak menyayangkan Anak-Nya sendiri, tetapi yang menyerahkan-Nya bagi kita semua." Allah menyerahkan anakNya kepada kita semua. Suatu pemahaman tentang kasih karunia yang sangat indah! Di pesan yang lalu (Keselamatan dan Kasih Karunia), kita juga melihat bahwa iman adalah tanggapan kita kepada kasih karunia dari Allah itu.
Jadi, pada dasarnya, iman adalah tanggapan kepada Allah, namun kita juga telah melihat bahwa iman secara sendirian tidak akan menyumbangkan apa-apa bagi karya keselamatan, karena apa yang kita perbuat adalah seperti menyerahkan diri kita ke dalam penanganan dokter. Penyerahan diri seseorang ke dalam penanganan dokter tidak menyumbangkan apa-apa bagi tindakan operasi, atau tindakan apapun yang dilakukan dalam penyembuhannya. Hal ini bukan berarti bahwa iman itu tidak penting. Tentu saja, iman itu sangatlah penting, karena kita telah melihat bahwa jika si pasien tidak menempatkan dirinya ke dalam penaganan dokter, maka sekalipun dokter yang terbaik di dunia ini juga tidak akan bisa menyembuhkannya. Jadi, iman adalah penyerahan diri sepenuhnya dalam pengertian menempatkan diri Anda sepenuhnya ke dalam tangan Allah, supaya Dia bisa menyembuhkan Anda. Namun hari ini, kita perlu memeriksa lebih lanjut, apakah makna iman yang sejati?

Kasih karunia dan tanggung jawab
Kasih karunia adalah unsur yang selalu ada di dalam hidup kita. Tak ada saat di dalam kehidupan Kristen di mana kita tidak membutuhkan kasih karunia lagi karena bahkan pekerjaan yang sedang kita jalankan adalah pekerjaan kasih karunia. Artinya, bahkan pelayanan yang sedang saya jalankan, buah yang saya hasilkan di dalam kehidupan Kristen saya, adalah buah dari kasih karunia. Ini berarti bahwa setiap bagian kehidupan Kristen bergantung pada kasih karunia. Namun jika kita berkata bahwa segala sesuatunya bergantung pada kasih karunia, lalu hal apa yang tersisa untuk dikerjakan oleh manusia? Jika kita menekankan kasih karunia sampai pada poin bahwa segala sesuatunya bergantung kepada Allah, lalu hal apa yang bergantung kepada kita? Maksud saya, jika segalanya bergantung pada kasih karunia, adakah tanggung jawab yang tersisa bagi manusia?
Di zaman sekarang ini, di dalam khotbah dan pengajaran di tengah gereja, ada bahaya penekanan yang berlebihan pada kasih karunia sehingga manusia tidak masuk hitungan lagi. Allah yang mengerjakan segala sesuatunya, sampai pada titik di mana manusia tidak perlu berbuat apa-apa lagi; keselamatan itu sepenuhnya merupakan tanggung jawab Allah dan bukan tanggung jawab kita. Apakah ini benar?
Apakah segala sesuatunya bergantung sepenuhnya kepada kasih karunia saja sehingga upaya, perbuatan dan tanggung jawab manusia, dalam hal apapun, tidak masuk hitungan. Jika demikian halnya, entah saya meresponi atau tidak, hal itu tidak menjadi masalah. Karena segala sesuatu bergantung pada kasih karunia, berarti saya pasif sepenuhnya, saya tidak perlu melakukan apapun. Di sini, Anda bisa melihat bagaimana ajaran yang benar bisa diterapkan secara salah dan berujung pada suatu kekeliruan yang besar.
Suatu kali ketika saya sedang berkunjung ke Swiss saya tidak tahu akan ke gereja mana pada hari Minggu. Sambil berjalan kaki saya melihat-lihat siapa tahu bertemu dengan sebuah gereja. Melihat ada sebuah gereja, saya langsung masuk ke sana. Khotbah yang disampaikan adalah tentang kedaulatan Allah, bahwa segala sesuatunya berdasarkan kasih karunia dan kuasaNya. Sejauh ini, segalanya baik-baik saja. Pernyataan itu memang benar. Namun kemudian, pengkhotbah melanjutkan dengan berkata, "Karena segala sesuatunya bergantung kepada kasih karunia Allah, berarti tidak ada hal yang bergantung pada diri Anda! Tak ada hal yang bergantung pada manusia. Dan ini berarti bahwa Allah akan menyelmatkan siapa yang ingin Dia selamatkan, dan membinasakan siapa yang ingin Dia binasakan."
Pernahkah Anda mendengar ajaran ini? Ini adalah pengajaran ekstrim dari kaum Kalvinis, di mana manusia menjadi tidak ada artinya - manusia menjadi pasif, tidak mengerjakan apa-apa sama sekali. Inilah persoalannya. Jika Allahlah yang bekerja di dalam diri Anda untuk menyelamatkan Anda dan segala sesuatunya bergantung pada kasih karunia, maka apakah Anda sama sekali tidak berperan? Apakah Anda memiliki tanggung jawab dalam perkara keselamatan ini?
Namun jika Anda  menjawab, "Ya, kita punya tanggung jawab tertentu," lalu, bagaimana kita bisa berkata bahwa semua itu karena kasih karunia? Jika ada bagian yang menjadi tanggung jawab Anda, maka itu berarti bahwa, bagaimanapun juga, tak semuanya berdasarkan kasih karunia, melainkan ada sebagian yang merupakan hasil kerja Anda, usaha Anda. Bagaimana kita memahami hal ini?

Kesalahpahaman: "Iman adalah Anugerah dari Allah"
Ajaran ini berlanjut dengan mengatakan, "Bahkan iman adalah anugerah atau hadiah dari Allah." Ini berarti bahwa bahkan iman yang Anda miliki adalah iman yang diberikan oleh Allah. Anda benar-benar pasif sepenuhnya sehingga bahkan iman Anda bukanlah iman Anda yang sesungguhnya, ini adalah iman pemberian dari Allah.
Saudara-saudari, waspadailah kalimat yang terdengar religius dan alim akan tetapi tidak benar, karena bahkan setan akan tampil sebagai malaikat terang. Di Matius 24:24, Yesus memperingatkan kita bahwa akan datang para penyesat yang, jika mungkin, bahkan akan menyesatkan orang-orang yang terpilih, umat pilihan Allah. Dengan cara apakah Anda bisa menyesatkan umat pilihan Allah? Jika Anda sampaikan hal yang sepenuhnya sesat kepada mereka, mereka akan segera melihatnya: "Itu salah! Kami tidak akan mau ikut ajaran itu!" Satu-satunya jalan bagi Anda untuk menyesatkan umat pilihan Allah adalah dengan menyampaikan hal yang terdengar sangat rohani, tetapi tidak sepenuhnya benar. Saya selalu menyampaikan bahwa kebenaran yang separuh-separuh justru jahu lebih berbahaya daripada kesesatan total.
Renungkanlah sejenak. Jika iman adalah hadiah dari Allah, maka pertanyaan saya adalah: Mengapa Allah tidak memberikan hadiah ini kepada semua orang? Karena Dia tidak memberikan hadiah itu kepada saya, maka saya tidak bisa memilikinya. Ini berarti bahwa jika Allah tidak memberi saya iman, tentu saja, saya tidak akan bisa memiliki iman. Ini berarti bahwa pada Hari Penghakiman nanti, maka saya tidak bersalah atas ketiadaan iman pada diri saya, karena Allah tidak memberikannya kepada saya. Bisakah Anda melihat bahaya dari ajaran ini?
Jika saya berkata kepada orang non-Kristen, "Iman adalah hadiah dari Allah," tidakkah menurut Anda semua orang non-Kristen yang bisa bepikir akan berkata kepada saya, "Aku tidak menjadi Kristen karena Allah tidak memberi saya iman"? Jika demikian halnya, apalah gunanya saya memberitakan Injil memohon agar orang-orang mau datang kepada Kristus? Mereka tidak bisa datang kepada Krsitus, karena satu-satunya jalan bagi mereka untuk bisa datang kepada Kristus adalah jika Allah memberi mereka anugerah itu. Jika Allah tidak memberi mereka anugerah itu, maka boleh saja saya berkhotbah sampai tenggorokan saya kering, namun tidak ada sesuatu hal yang terjadi.
Persisnya, hal semacam itulah yang disampaikan oleh pendeta di Swiss itu. Itulah persisnya, kata-kata yang dia sampaikan. Katanya, "Tak ada gunanya memberitakan Injil karena jika Allah tidak memberikan hadiah itu, tidak ada apapun yang terjadi. Mereka yang akan diselamatkan oleh Allah, akan diselamatkan oleh Allah. Mereka yang tidak akan diselamatkan, Anda boleh saja berkhotbah sampai mulut Anda kering dan lidah Anda kelu, namun dia tetap tidak diselamatkan." Itulah sebabnya mengapa saat itu pengkhotbah itu berkata, "Orang-orang seperti Billy Graham itu bodoh. Mereka bodoh karena mereka tidak paham bahwa iman itu adalah hadiah dari Allah. Artinya, jika Allah ingin menyelamatkan seseorang, maka Dia pasti akan menyelamatkan orang itu - tidak peduli apakah Anda mengkhotbahi dia atau tidak." Bukankah khotbah itu terdengar religius? Bukankah terdengar sangat indah betapa Allah mengendalikan segala sesuatunya?

Menerima kasih karunia menambah tanggung jawab kita
Anda mungkin berkata kepada saya, "Akan tetapi di pesan yang lalu Anda berkata bahwa segala sesuatu berdasarkan kasih karunia. Apa bedanya dengan yang disampaikan oleh pendeta di Swiss itu?" Perbedaannya sangatlah mendasar. Apa yang saya sampaikan adalah segala sesuatunya bergantung pada kasih karunia dalam kaitannya dengan karya keselamatan.
Saya katakan, "Dalam kaitannya dengan karya keselamatan." Apakah yang dimaksudkan dengan "karya keselamatan"? Artinya, hanya Allah yang bisa menyingkirkan hukuman dosa. Itulah yang dimaksudkan sebagai karya keselamatan. Hanya Allah yang bisa menyingkirkan hukuman dosa saya, dengan dia sendiri melunasi hukuman itu. Saya katakan, "Hanya Dia!" Tak ada orang lain yang bisa melakukannya. Itulah sebabnya mengapa keselamatan itu sepenuhnya berdasarkan kasih karunia.
Kedua, hanya Allah yang bisa menyingkirkan kuasa dosa dari dalam hidup saya. Tak ada orang lain yang dapat melakukannya! Saya tidak bisa memerdekakan diri saya sendiri; saya juga tidak bisa memerdekakan orang lain; hanya Allah, hanya Dia yang bisa memerdekakan kita dari kuasa dosa. Itulah sebabnya mengapa keselamatan dari dosa adalah hal yang hanya bisa digenapi olehNya.
Seperti ilustrasi yang saya pernah berikan. Hanya dokter yang bisa menyembuhkan penyakit Anda, hanya dia yang bisa membedah Anda; Anda tidak bisa membedah diri Anda sendiri. Dalam kaitannya dengan hal penyembuhan medis, Anda tidak berperan apa-apa di dalam kerja penyembuhan itu. Dia yang menuliskan resepnya; dia yang melakukan pembedahan; dia yang melakukan diagnosis. Dia yang melakukan semua itu!
Demikianlah, Alkitab mengajarkan kita dengan jelas, bahwa keselamatan adalah murni kasih karuniaNya. Namun kita tidak boleh menempatkan kasih karunia sedemikian rupa sehingga menghilangkan tanggung jawab kita. Sebaliknya, kasih karunia menurut Alkitab justru meingkatkan tanggung jawab Anda. Inilah yang dikatakan oleh Kitab Suci: "... kepada siapa yang banyak dipercayakan (yaitu kasih karunia), dari padanya akan lebih banyak lagi dituntut." [Luk 12:48] Semakin banyak kasih karunia yang Anda terima, maka semakin berat pula tanggung jawab Anda. Alkitab mengajarkan hal yang justru bertentangan dengan ajaran dari pendeta tersebut. Kasih karunia bukan saja tidak menyingkirkan porsi tanggung jawab Anda, namun sebaliknya, kasih karunia justru menambah tanggung jawab Anda! Itu berarti bahwa mendengarkan Injil adalah suatu kesempatan istimewa; adalah suatu kasih karunia. Namun mendengarkan Injil lalu menolaknya, akan memperberat tanggung jawab Anda.
Mari kita kembali ke dalam ilustrasi tentang dokter tersebut. Anggaplah Anda sedang sakit parah, dan Anda tidak tahu harus berbuat apa. Selama Anda tidak tahu apa yang harus diperbuat, beban tangung jawab Anda sedikit saja, karena tak ada hal yang bisa Anda perbuat. Tapi sekarang, saya sampaikan satu kabar baik. Anda sedang sakit, Anda sedang sekarat, dan saya berkata, "Saya ada kabar baik buatmu! Saya telah menemukan dokter spesialis yang sangat hebat! Dia bisa menyembuhkanmu." Itulah Injil! Itulah kabar baiknya. Kabar baik itu sudah datang!
Anggaplah sesudah Anda mendengarkan kabar baik ini, Anda berkata, "Oh, aku tidak percaya hal ini. Tak seorangpun yang bisa menyembuhkanku."
Lalu saya terus berusaha meyakinkan Anda dan berkata, "Dokter ini telah menyembuhkan begitu banyak orang dengan penyakit yang sama denganmu. Saya mohon padamu, datangilah dokter ini."
Anda berkata, "Tidak, aku tidak mempercayainya. Penyakitku ini sudah tidak bisa disembuhkan lagi, tak seorangpun yang bisa menolongku."
Dapatkah Anda melihat bahwa setelah saya memberitahu Anda tentang adanya dokter yang bisa menyembuhkan Anda namun Anda menolaknya, maka penolakan ini memberatkan tangung jawab Anda? Karena sesungguhnya Anda seharusnya bisa disembuhkan, namun Anda tidak mengingininya. Fakta bahwa dokter ini bisa berbuat sesuatu bagi Anda, akan tetapi Anda tidak mau mengunjunginya, hal ini membuat Anda sendiri bertanggung jawab atas keadaan Anda sekarang. Dapatkah Anda melihat pokok ini?
Jadi, saudara-saudari, berhati-hatilah akan ajaran kasih karunia yang sering kita dengarkan sekarang, yang mengajarkan tentang kasih karunia yang berhujung pada Anda tidak memiliki tanggung jawab sama sekali. Namun jika Anda menyadari bahwa hal mendengarkan Firman Allah serta memperoleh kasih karunia itu malahan memperbesar tanggung jawab Anda, maka itu berarti bahwa Anda telah memahami arti kasih karunia dengan benar.

Apakah Efesus 2:8 berkata "Iman adalah hadiah"
Banyak orang yang mengutip Efesus 2:8, sebagai ayat favorit untuk mengatakan bahwa iman adalah hadiah dari Allah. Akan tetapi Efesus 2:8 tidak menyatakan bahwa iman adalah hadiah dari Allah - Sebab karena kasih karunia kamu diselamatkan oleh iman; itu bukan hasil usahamu, tetapi pemberian Allah. Subyek dari ayat 8 ini bukanlah iman, melainkan keselamatan. Sangatlah penting untuk memahami ayat-ayat tersebut dalam bahasa aslinya. Dilihat dari segi tata bahasanya Anda akan melihat bahwa kata 'itu', yang di dalam bahasa Yunaninya menggunakan jenis kata netral, tidaklah mengacu pada kata 'iman' yang merupakan jenis kata feminin di dalam bahasa Yunani. Pokok utama ayat Efe 2:8 sama sekali tidak menyatakan bahwa iman adalah suatu hadiah atau pemberian. Yang merupakan pemberian itu adalah keselamatan Anda. Seorang ekseget yang jujur akan segera tahu bahwa subyek dari kalimat ini adalah keselamatan, bukanya iman. Iman adalah sekadar sarana bagi keselamatan. Ayat ini tidak berkata, "iman adalah hadiah dari Allah". Iman adalah tanggapan Anda kepada Allah. Anda bertanggung jawab atas iman Anda. Alkitab tidak menyebutkan bahwa Allah bertanggung jawab atas iman Anda.

Iman yang sejati melibatkan perbuatan
Saya akan berpaling pada Yohanes pasal 6 untuk menjelaskan tentang ciri-ciri iman yang sejati. Di Yohanes 6:27-29 ada tertulis, "Bekerjalah, bukan untuk makanan yang akan dapat binasa, melainkan untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup yang kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu; sebab Dialah yang disahkan oleh Bapa, Allah, dengan meterai-Nya." Lalu kata mereka kepada-Nya: "Apakah yang harus kami perbuat, supaya kami mengerjakan pekerjaan yang dikehendaki Allah?" Jawab Yesus kepada mereka: "Inilah pekerjaan yang dikehendaki Allah, yaitu hendaklah kamu percaya kepada Dia yang telah diutus Allah."
Ayat-ayat ini sangatlah berharga. Sekarang ini, karena adanya penekanan yang salah tentang kasih karunia; ada ketakutan besar dalam membicarakan tanggung jawab dan peran manusia dalam kaitannya dengan keselamatan. Ada ketakutan untuk melibatkan kata 'bekerja' atau 'pekerjaan'. Mereka begitu takut dengan kata ini, padahal Yesus tidak takut memakai kata ini dan rasul Paulus tidak takut memakai kata ini.
Di ayat 27, Yesus berkata, "Bekerjalah, bukan untuk..." - yang berarti, janganlah bekerja, janganlah pusatkan segenap upayamu untuk mendapatkan makanan yang akan binasa, tetapi bekerjalah untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu. Ini adalah hal yang menarik. Perhatikan unsur mendasar dari kasih karunia di sini. Makanan yang akan bertahan sampai kepada hidup kekal, makanan yang akan memberi Anda hidup yang kekal adalah hal yang hanya bisa diberikan oleh Yesus kepada Anda. Di sana dikatakan, "Yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu." Yakni, hanya dia yang bisa memberinya kepada Anda. Namun perhatikan, Yesus juga berkata, "Hanya Anak Manusia yang bisa memberikannya kepadamu, akan tetapi kamu harus bekerja untuk mendapatkannya." Renungkanlah kalimat ini sekali lagi, "(Bekerjalah) untuk makanan yang bertahan sampai kepada hidup kekal, yang akan diberikan Anak Manusia kepadamu." Sungguh sangat menarik! Dia memberikannya, akan tetapi Anda harus bekerja untuk mendapatkannya.
Pengajaran Yesus sangat sempurna, bukankah begitu? Semakin saya mempelajari ajaran Tuhan, semakin hati saya dipenuhi oleh kekaguman. Saya sangat terpesona pada ajaran Tuhan. Ajaran manusia tidaklah sempurna, selalu berat sebelah. Jika mereka menekankan satu hal, mereka akan mengabaikan sisi-sisi lainnya. Jika mereka menekankan kasih karunia, mereka mengabaikan perbuatan baik atau pekerjaan. Jika mereka menekankan pekerjaan atau perbuatan baik dan iman, maka mereka akan melupakan kasih karunia. Dan saat mereka mengabaikan kasih karunia, mereka akan menekankan bahwa Anda diselamatkan oleh usaha Anda sendiri, suatu hal yang tidak akan pernah bisa Anda capai. Demikianlah, manusia tidak bisa menjaga keseimbangan sudut pandang kebenaran dari Allah. Dapatkah Anda memahami ajaran yang indah dari Yesus? Sungguh sangat indah!
"Anugerah hidup kekal dariku ini adalah pemberian buatmu." Hal itulah yang senang disampaikan oleh para penginjil; mereka hanya menyampaikan potongan kebenaran yang separuh. Padahal itu bukanlah apa yang disampaikan oleh Yesus. Dia berkata, "Bekerjalah untuk makanan itu." Bagaimana mungkin pemberian itu disebut sebagai anugerah atau hadiah jika Anda harus bekerja untuk mendapatkannya?
Ingatkah Anda pada orang muda yang kaya? Dia sangat memahami situasinya. Ingatkah Anda pada pertanyaannya? "Apakah yang harus kuperbuat untuk memperoleh (mewarisi) hidup yang kekal?" Oh, dia sangat mengerti! Warisan adalah suatu pemberian. Bagaimana caranya supaya saya bisa memperoleh warisan? Saya harus menjadi anak seseorang untuk mendapat warisan. Tak ada hal yang bisa saya usahakan untuk memperoleh warisan, untuk memperoleh pemberian. Akan tetapi ada satu hal yang bisa Anda perbuat: Anda bisa menjadi anak Allah untuk memperoleh warisan dariNya. Anda bisa diangkat menjadi anakNya. Di Yoh 1:12 dikatakan, "Tetapi semua orang yang menerima-Nya diberi-Nya kuasa supaya menjadi anak-anak Allah, yaitu mereka yang percaya dalam nama-Nya"? Demikianlah, kita bisa melihat bahwa orang muda yang kaya ini tidak mengajukan pertanyaan yang bodoh. Malahan, kita melihat bahwa pertanyaan ini sangat mendalam dan bijak. Dia tahu bahwa dia tidak bisa mendapatkan hidup yang kekal sebagai hasil upayanya; hidup yang kekal itu adalah warisan. Namun karena hidup yang kekal itu adalah warisan atau pemberian, bukan berarti bahwa Anda tidak bisa berbuat apa-apa untuk menjadi layak memperolehnya. Sebaliknya, Anda harus berbuat sesuatu agar layak memperolehnya. Hidup yang kekal adalah pemberian dari Allah, akan tetapi Yesus berkata, "Bekerjalah untuk mendapatkannya."
Dengan kata lain, Yesus menyatakan, "Berjuanglah untuk bisa masuk melalui pintu itu." [Mat 7:13]. Hal terbukanya pintu gerbang itu adalah kasih karunia, hanya Tuhan yang bisa membukanya. Saya tidak bisa membobol pintu gerbang hidup kekal itu untuk masuk ke dalamnya. Kasih karunialah yang membukakan pintu surga bagi kita. Akan tetapi Allah tidak akan melemparkan tali lalu menyeret saya, yang berkeras menolak, untuk masuk. Sebaliknya, Dia berkata, "Nah, Aku telah membuka pintu gerbang kasih karunia buatmu. Sekarang, menjadi tanggung jawabmu untuk berjuang masuk." Kasih karunia menurut Alkitab tak pernah menyingkirkan tanggung jawab dan tekad manusia.

Kehendak kita tidak dibelenggu!
Namun di sini, muncul satu pertanyaan: Apakah saya, sebagai orang berdosa, mampu untuk menanggapi kasih karunia Allah? Ada orang yang berkata bahwa kita ini begitu kuat dibelenggu oleh dosa sehingga kita tidak bisa menanggapi kasih karunia Allah sekalipun kita ingin melakukannya. Jika hal itu benar, maka apa gunanya Yesus menyuruh kita berjuang untuk masuk melalui pintu gerbang yang sempit itu padahal kita tidak bisa memasukinya? Apakah gunanya berkata bahwa kita harus berseru pada Allah jika kita tidak bisa melakukannya? Apa gunanya menyuruh saya untuk mengikut Tuhan, untuk percaya kepadanya jika saya tidak bisa melakukannya? Demikianlah, ada yang mengajarkan bahwa kehendak manusia itu berada dalam belenggu - ada semacam belenggu keinginan. Dan karena kehendak saya terbelenggu, maka saya tidak bisa menanggapi Allah. Hal ini, sekali lagi, kembali menempatkan manusia ke dalam kedudukan yang pasif, tidak berbuat apa-apa dan menunggu Allah berbuat sesuatu bagi mereka.
Apakah yang menjadi dasar pernyataan bahwa kehendak manusia itu berada di bawah belenggu? Apakah bukti alkitabiah bagi pernyataan semacam ini? Ayat yang sering dikutip adalah di Roma 7:19, Sebab bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik, yang aku perbuat, melainkan apa yang tidak aku kehendaki, yaitu yang jahat, yang aku perbuat. Apakah Paulus berkata bahwa dia tidak bisa berkehendak? Yang dikatakan oleh Paulus di ayat 18 adalah, "Sebab aku tahu, bahwa di dalam aku, yaitu di dalam aku sebagai manusia, tidak ada sesuatu yang baik. Sebab kehendak memang ada di dalam aku, tetapi bukan hal berbuat apa yang baik. Bukan apa yang aku kehendaki, yaitu yang baik."" Paulus tidak berkata bahwa Anda tidak bisa berkehendak. Dia hanya berkata bahwa Anda tidak bisa melakukannya. Paulus bisa berkehendak. Tidak ada belenggu terhadap kehendak; memang ada belenggu pada dirinya tapi bukan pada kehendaknya. Ini adalah hal yang penting untuk dipahami.
Anda mungkin bertanya, "Bagaimana membedakan belenggu pada diri dengan belenggu pada kehendak?" Cukup sederhana! Silakan pergi ke penjara. Orang-orang di sana memang terkurung, akan tetapi mereka bisa berkehendak untuk keluar. Mereka bisa menginginkan apapun yang mereka mau, akan tetapi mereka tidak bisa keluar dari sana. Fakta bahwa diri mereka terkurung di dalam penjara tidak berarti bahwa mereka tidak memiliki kehendak untuk bebas.
Di sini, pembedaan itu sangatlah penting, karena jika saya tidak bisa memahami apa yang benar, jika saya bahkan tidak memilki keinginan untuk merdeka, maka tentu saja, tamatlah riwayat saya. Berarti saya tidak perlu bertanggung jawab atas tindakan-tindakan saya. Akan tetapi, ajaran bahwa kehendak berada di dalam belenggu ini menjadi bagian dari ajaran beberapa gereja sekarang. Namun jika hal tersebut benar, tidakkah Anda melihat bahwa para pendosa tidak perlu bertangung jawab atas tindakan mereka? Lalu, mengapa Allah memasukkan orang ke dalam neraka karena berbuat dosa yang tidak dapat dia hindarkan? Jika memang demikian halnya, dapatkah Anda katakan bahwa Allah adil? Lagi pula, orang tersebut tidak bisa menolak untuk berbuat dosa.
Namun bukan hal itu yang dikatakan oleh Paulus di kitab Roma. Dia berkata, "Aku melakukan apa yang kubenci. Aku membenci tindakan tersebut, akan tetapi aku melakukannya. Kehendakku bukanlah untuk mengerjakan hal tersebut. Akan tetapi, entah bagaimana, kuasa dosa begitu kuat, karena aku adalah budak dosa, sehingga aku mengerjakan hal yang aku benci!" Tak heran jika dia melanjutkan dengan jeritan, "Aku, manusia celaka! Siapakah yang akan melepaskan aku dari tubuh maut ini?" [Rom 7:24]. Dia berada dalam tekanan besar dosa, kemudian dia beralih kepada kasih karunia. Dia berkata, "Syukur kepada Allah! Karena Allah akan memerdekakan saya dari belenggu dosa." Lalu di pasal berikutnya, di Roma pasal 8, Paulus berbicara tentang hidup yang berkemenangan, bahwa di dalam Kristus kita dimerdekakan dari kuasa dosa. Sebenarnya, kemerdekaan kehendak ini, sudah dia bahas dari Roma pasal 2. Di sana Paulus berbicara tentang orang asing yang tidak mengenal Hukum Taurat, namun oleh nalurinya menjalankan apa yang dituntut oleh hukum Taurat. Hal ini tentu saja dilandasi oleh kemerdekaan kehendak.

"Mati di dalam dosa" bukan berarti bahwa kehendak itu dibelenggu
Ayat lain yang gemar dikutip untuk mengatakan bahwa kehendak itu tidak bebas adalah di Efesus 2.1. Kalimat yang dari Paulus yang berkata "dahulu sudah mati karena pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa" kita [Efesus 2:1]. Mereka ingin mengatakan, "Anda lihat, dulu Anda mati." Benar, saat kita menjadi Kristen, kita juga mati. Namun apa pengertian mati di sini? Saat kita dibaptiskan, kita mati bersama Kristus. Apakah hal itu berarti bahwa kehendak kita juga ikut mati? Apakah hal itu berarti bahwa kita kehilangan kepribadian kita? Paulus tidak bermaksud menyatakan hal-hal semacam itu. "Mati bagi dosa," berarti hubungan kita dengan dosa telah diputuskan. Hubungan dengan dosa sudah berakhir. Hal ini berarti bahwa, ketika saya menjadi Kristen, maka hubungan saya dengan dosa dan dunia sudah berakhir. Saya mati bagi dunia berarti hubungan saya dengan dunia telah berakhir. Ini adalah bahasa gambar. Dan ketika saya masih di dalam pelanggaran-pelanggaran dan dosa-dosa saya, maka hal yang sebaliknyalah yang berlaku. Hubungan saya dengan Allah terputus. Saya tidak punya hubungan yang hidup denganNya.
Ungkapan tentang mati di dalam dosa ini bukan sekadar berlaku pada orang-orang non-Kristen, melainkan juga berlaku pada orang Kristen. Hal ini juga berlaku bagi jemaat di Sardis. Yesus berkata, "Engkau dikatakan hidup, padahal engkau mati!" Dia berkata kepada orang-orang percaya, "Engkau telah mati!" Apa yang dimaksudkan oleh Yesus? Apakah dia bermaksud mengatakan bahwa orang-orang Kristen telah kehilangan kehendaknya? Jika 'mati' itu berarti kehilangan kehendak mereka, bagaimana mungkin Yesus melanjutkan dengan berkata, "Bertobatlah!"? Bagaimana mungkin mereka bertobat jika mereka telah mati?
Saat Yesus berkata, "Kamu itu mati sekalipun kamu disebut hidup," dia tidak bermaksud mengatakan bahwa kehendak mereka telah musnah. Yang dimaksudkan adalah, "Hubunganmu denganku telah berakhir. Engkau telah kembali hidup di dalam dosa." Dari sini, kita bisa melihat bahwa kasih karunia itu sama sekali tidak menyingkirkan tanggung jawab kita.  Dan 'kematian kita di dalam dosa' sama sekali tidak menyingkirkan tanggung jawab kita atas perbuatan dan kehendak kita. Sebagaimana yang telah disampaikan oleh Paulus, "Sebab kehendak memang ada di dalam aku." Saya bisa menginginkan apa yang benar. Saya tidak bisa melakukannya, akan tetapi saya bisa menginginkannya (Rom 7:18). Jadi jangan biarkan kutipan tentang hal 'mati di dalam dosa-dosa' membuat Anda menjadi bingung; kutipan tersebut tidak menunjukkan bahwa Anda bebas dari tanggung jawab. Para pendosa akan senang sekali jika tidak perlu bertanggung jawab.
Keadaan 'mati' ini adalah suatu ungkapan yang cukup terkenal di kalangan orang Yahudi. Makna dasarnya adalah hubungan yang terputus. Itulah sebabnya mengapa Anda bisa temukan juga ungkapan ini di dalam Perumpamaan tentang Anak yang Terhilang. Ingatkah Anda akan kalimat, "... anakku ini telah mati dan menjadi hidup kembali"? Si anak ini tidak mati secara jasmani. "... anakku ini telah mati" berarti bahwa si anak telah terpisah dari sang ayah, si anak menghilang dari tempat ayahnya. Sekarang, si anak itu 'hidup kembali' (Luk 15:24). Demikianlah, kita mulai melihat semakin jelas, fakta bahwa kasih karunia Allah menempatkan tanggung jawab yang besar pada kehendak saya untuk memberikan tanggapan.

Allah tidak memaksa kita masuk ke dalam Kerajaan
Ada banyak hal yang perlu dibahas akan tetapi waktu kita tinggal sedikit saja. Pembahasan akan kita lanjutkan lain kali. Sangatlah penting untuk memahami arti keselamatan. Sangatlah penting untuk tidak salah paham dan mengartikan bahwa "karena keselamatan itu adalah masalah kasih karunia, maka manusia tidak perlu bertanggung jawab." Sebaliknya, karena keselamatan itu berdasarkan kasih karunia, maka tanggung jawab Anda justru menjadi sangat besar. Ketika pintu gerbang keselamatan sudah dibuka bagi Anda, namun Anda tidak melangkah masuk, maka tanggung jawab Anda sangat berat. Allah menarik kita dengan tali kasihNya, akan tetapi tali kasihNya itu tidak Dia pakai untuk menyeret Anda masuk.
Ada banyak orang yang gemar mengutip Yoh 6:1. Di sini tertulis, "Tidak ada seorangpun yang dapat datang kepada-Ku, jikalau ia tidak ditarik oleh Bapa yang mengutus Aku, dan ia akan Kubangkitkan pada akhir zaman." Kata yang dipakai di sini adalah kata 'ditarik'. Di Yoh 12:32, kata Yunani yang sama digunakan: "Apabila Aku ditinggikan dari bumi, Aku akan menarik semua orang datang kepada-Ku." Saat Yesus berkata bahwa kita tidak bisa datang tanpa ditarik, bukan berarti bahwa hanya sebagian orang yang ditarik dan sebagian yang lainnya dibiarkan. Bagaimana orang ditarik kepada Tuhan? Dengan kasihnya yang diungkapkan kayu salib! "Saat Aku ditinggikan di kayu salib, Aku akan menarik semua orang kepadaKu dengan kasihKu." Kata 'menarik' ini selalu merupakan ungkapan dari kasih. Anda tidak pernah boleh memasukkan makna menyeret ke dalam kata 'menarik' ini, seolah-olah Allah menyelamatkan kita dengan cara menyeret kita masuk ke dalam kerajaan. Sama sekali bukan itu maksudnya. Kata ini muncul di dalam Kidung Agung 1:4, "Tariklah aku di belakangmu..." menarik saya dengan kasihNya. Dan di dalam Yer 38:3, Yeremia berkata bahwa Dia menarik kita dengan kasih kebaikanNya. Dan lagi, di dalam Hosea 11:4, di sana ada gambaran tentang Allah yang sedang menarik Israel dengan kasihNya.
Namun tindakan 'menarik' ini tidak boleh diartikan sebagai tindakan yang tak dapat ditentang, yang tidak dapat ditolak. Sebenarnya, Israel telah menolak kasih Allah. Ketika Allah menarik mereka dengan kasih kebaikanNya, mereka tidak menanggapi. Itulah pokok di dalam kitab Hosea.

Kita bertanggung jawab untuk menanggapi kasih karuniaNya
Karya keselamatan sepenuhnya berdasarkan kasih karunia. Dan iman yang sejati adalah tanggapan terhadap kasih karunia itu, dan kita bertanggung jawab sepenuhnya atas tindakan kita untuk menanggapi atau tidak menanggapi.
Alkitab memberitahu kita bahwa Allah begitu mengasihi dunia. Rasul Yohanes memberitahu kita bahwa Yesus telah mati bagi kita bukan sekadar bagi dosa-dosa kita, melainkan bagi dosa dunia. Akan tetapi tidak semua orang di dunia ini diselamatkan. Allah mengasihi segenap isi dunia, akan tetapi tidak semua isi dunia menanggapi kasih Allah. Rasul Petrus berkata, "Ia menghendaki supaya jangan ada yang binasa, melainkan supaya semua orang berbalik dan bertobat." [2Pet 3:9]. Allah ingin agar setiap orang diselamatkan, akan tetapi tidak semua orang diselamatkan karena tidak semua orang memberi tanggapan terhadap kasihNya. Jadi, apakah jawabannya? Adalah merupakan tanggung jawab kita untuk memberikan tanggapan itu!
Mungkin ada yang akan berkata, "Mengapa Allah tidak 'menyeret' atau membuat semua orang masuk ke dalam kerajaan dan menyelamatkan mereka?" Apakah menurut Anda akan merupakan hal yang baik mendapatkan banyak orang yang gemar mengeluh dan menggerutu: "Siapa yang mau masuk ke dalam Kerajaan Allah? Aku diseret masuk ke sini!"
Saya beritahu Anda: Allah menghormati Anda. Manusia mungkin tidak menghormati Anda, akan tetapi ajaibnya, Allah menghormati Anda. Allah menghormati dan memperlakukan Anda sebagai satu pribadi. Allah memperlakukan Anda sebagai satu pribadi, bukan sebagai hewan, bukan sebagai anjing yang diberi rantai dan kalung, atau kuda yang diberi tali kekang. Allah juga tidak memperlakukan Anda sebagai benda. Mengapa? Karena Dia ingin Anda menjadi satu pribadi. Dia menciptakan Anda tidak untuk sekadar menjadi benda atau binatang, melainkan menjadi satu pribadi. Binatang memang sangat menyenangkan, akan tetapi Anda tidak bisa memiliki persahabatan dengan binatang. Benda-benda juga sangat menyenangkan, akan tetapi Anda tidak bisa menjalin persahabatan dengan benda. Hanya suatu pribadi yang bisa bersahabat dengan pribadi yang lain. Allah hanya bisa memiliki persahabatan dengan manusia. Itulah sebabnya mengapa Allah menciptakan kita dalam gambaranNya, untuk bisa bersahabat dengan kita. Jika yang Allah inginkan hanya perangkat audio super untuk menyanyikan pujian bagiNya, tentunya Dia tidak perlu menciptakan kita.
Hal apakah yang menjadi ciri bagi sebuah kepribadian? Ciri utama suatu pribadi adalah unsur tangung jawab. Hanya manusia yang bisa memberi tanggapan berdasarkan pilihannya sendiri; berdasarkan kehendak bebasnya. Hal itulah yang membuat Anda menjadi satu pribadi yang khusus. Jika saya singkirkan tanggung jawab Anda, maka itu berarti saya memperlakukan Anda bukan sebagai satu pribadi, melainkan sebagai hewan atau benda. Saya memperlakukan Anda sebagai 'obyek' jika saya mengacungkan senjata ke arah Anda dan berkata, "kamu harus melakukan ini. Kalau kamu tidak mengerjakan ini, aku akan menembakmu." Dengan demikian, maka saya telah menyingkirkan peluang Anda untuk memilih dan bertanggung jawab.
Allah tidak memperlakukan kita seperti itu. Dia berkata, "Inilah kasih karuniaKu, Aku telah membuka pintu gerbang kerajaan bagimu." Dia tidak memaksa kita untuk menerimaNya. Dalam surat kepada jemaat di Laodikia, kita temukan kata-kata berikut, "Lihat, Aku berdiri di muka pintu dan mengetuk" (Wah 3:20). Yesus tidak mendobrak pintu. Dia tidak berkata, "kau tahu siapa aku? Kau berani berkata tidak kepadaku?" Raja dari segala raja, berdiri di muka pintu dan mengetuk. Hanya pribadi-pribadi hina - seperti bandit dan penjahat - yang mendobrak pintu untuk bisa masuk. Mereka tidak memperlakukan Anda sebagai pribadi. Mereka tidak peduli apakah Anda berkata ya atau tidak. Yang aku inginkan akan aku kejar, aku akan masuk ke dalam rumahmu dan mengambil barang-barangmu, aku akan membobol pintu untuk melakukannya. Hanya para penjarah yang berbuat seperti itu. Akan tetapi, ternyata ada orang yang memberitakan Injil dan berharap agar Allah melakukan hal yang sama. Mereka tidak mengerti mengapa anak Allah justru berdiri di muka pintu dan mengetuk. Anak Allah tidak menjebol pintu. Karena mentalitas manusia adalah seperti ini: kalau aku memiliki kekuasaan yang mencukupi, maka aku tidak akan mengetuk pintu, aku akan mendobraknya. Karena tidak memiliki kekuatan, maka aku harus mengetuk pintu. Allah tidak berperilaku seperti itu. Hanya manusia yang berperilaku seperti ini.
Saya pernah bertemu dengan seorang Jendral dari China. Dia adalah panglima pasukan lapis baja di masa Perang Dunia II, dan di masa perang itu, dia pernah bergerak melintasi daerah kekuasaan Perancis di Shanghai - di wilayah Shanghai ada daerah kekuasaan Perancis, Inggris, dan yang lain-lainnya - untuk menyerang wilayah Jepang. Tentu saja, jika dia tidak melintasi daerah kekuasaan Perancis, maka dia harus memutar cukup jauh untuk bisa mencapai daerah kekuasaan Jepang. Karena kekuatannya - yang mencakup berbagai kendaraan lapis baja itu - tak akan bisa dihadang oleh pihak Perancis, maka dia memutuskan untuk melintasi daerah kekuasaan Perancis tanpa meminta persetujuan mereka. Ketika dia sampai di sektor yang dikuasai oleh Perancis, pasukan Perancis menghadangnya dan berkata, "Tidak, Anda tidak boleh lewat. Ini adalah wilayah kekuasaan Perancis." Dan Jendral itu berkata, "Jika Anda tidak menyingkir dari hadapan saya, maka saya akan melindas kalian. Silakan kalian ambil keputusan." Lalu pasukan Perancis itu berkata, "Kami akan mengajukan protes ke Nanking!" Dia menjawab, "Silakan kalian berbicara dengan para politisi di sana. Saya seorang perwira militer. Menyingkir dari hadapan saya atau saya akan melindas kalian." Kemudian, dia perintahkan barisannya, "Maju terus!" dan pasukannya bergerak maju dengan semua senjata siap tembak. Tentu saja, pihak Perancis tidak berani menghentikannya.
Tahukah Anda, ada satu hal yang sungguh lucu! Jika Anda mendengarkan kisah tersebut, Anda akan merasa sangat senang! Anda akan berkata, "Ah, bagus sekali! Begituah caranya memperlakukan mereka. Begitulah cara memperlakukan orang-orang asing tersebut. Tank-tank China itu memang harus maju. Jika tidak mengizinkan, maka mereka harus merasakan kekuatan kita." Ketika Jendral ini bercerita kepada saya, dia merasa sangat senang akan hal tersebut. Itulah mentalitas dunia. Jika Anda memiliki kekuatan, Anda akan menggunakannya! Anda tidak akan menunggu dan mengetuk pintu orang lain. Anda tidak akan peduli apakah orang lain akan setuju atau tidak. "Aku punya kekuatan, aku bebas mengerjakan apa yang aku mau."
Namun itu bukanlah cara Allah berpikir dan bertindak. Karena Dia lebih besar daripada Anda, bukan berarti Dia akan menggilas Anda. Ingatlah bahwa Allah memperlakukan Anda sebagai pribadi. Dia memperlakukan Anda sebagai pribadi karena Dia sangat mengasihi Anda. Dan tanggung jawab Anda adalah untuk menanggapi kasih tersebut!